Diet One Meal A Day (OMAD) kembali menjadi perbincangan setelah seorang pegiat kebugaran membagikan pengalamannya menjalani pola makan ekstrem tersebut selama satu minggu. Metode diet OMAD mengharuskan pelakunya hanya makan satu kali sehari, dengan tujuan mendorong pembakaran lemak melalui mekanisme puasa panjang.

OMAD merupakan salah satu bentuk intermittent fasting. Seluruh asupan kalori harian dikonsumsi dalam satu waktu makan, biasanya dalam rentang sekitar satu jam. Setelah itu, tubuh berpuasa selama hampir 24 jam penuh. Selama periode puasa, konsumsi air putih serta minuman tanpa kalori seperti kopi hitam dan teh tetap diperbolehkan.

Pegiat kebugaran asal Kanada, Will Tennyson, mencoba diet OMAD selama tujuh hari dan mendokumentasikan pengalamannya melalui kanal YouTube pribadi. Ia mengaku tidak menargetkan perubahan kebugaran tertentu, melainkan ingin melihat bagaimana respons tubuhnya, termasuk apakah berat badan akan naik atau justru turun.

Pada hari pertama, Tennyson memulai OMAD dengan porsi besar makanan cepat saji sebelum menjalani latihan fisik. Ia menilai diet tersebut tidak langsung mengganggu rutinitas olahraganya karena ia terbiasa berlatih dalam kondisi perut kosong. Namun, jarak waktu yang sangat panjang antara sesi latihan dan waktu makan mulai menimbulkan dampak signifikan.

Ia mengaku mengalami kelelahan berat di sela-sela latihan siang hingga sore hari, bahkan harus menghentikan aktivitasnya lebih awal. Biasanya, ia mengonsumsi makanan pada sore hari, tetapi dalam pola OMAD, waktu makan baru dilakukan menjelang malam. Kondisi tersebut memicu dorongan kuat untuk makan berlebihan.

Memasuki hari keempat, tantangan diet OMAD semakin terasa. Pikiran tentang makanan terus muncul, membuat konsumsi kafein meningkat sebagai cara menekan rasa lapar. Selain itu, ia menilai diet ini sulit diterapkan dalam kehidupan sosial karena tidak memungkinkan makan bersama teman atau keluarga.

Baru pada hari kelima, tubuhnya mulai beradaptasi. Tennyson merasa mampu membedakan rasa lapar yang nyata dengan rasa lapar akibat kebiasaan. Ia juga menyadari bahwa sebagian rasa lapar yang muncul sebenarnya merupakan tanda dehidrasi, sehingga cukup diatasi dengan minum air atau kopi tanpa gula.

Di akhir percobaan, berat badan Tennyson tercatat turun sekitar 1,7 kilogram. Meski hasil tersebut terlihat signifikan, ia menilai diet OMAD terlalu ekstrem dan sulit dipertahankan dalam jangka panjang. Menurutnya, metode ini tidak cocok untuk dirinya dan kemungkinan juga tidak sesuai bagi banyak orang.

Dari sisi medis, WebMD menjelaskan bahwa saat tubuh berpuasa, kadar insulin akan menurun. Kondisi ini memaksa tubuh beralih menggunakan cadangan lemak sebagai sumber energi. Proses tersebut biasanya baru terjadi setelah puasa berlangsung cukup lama hingga insulin berada pada level rendah.

Sejumlah studi menunjukkan puasa intermiten, termasuk OMAD, berpotensi membantu penurunan berat badan. Namun, para ahli menilai manfaat tersebut masih memerlukan penelitian lanjutan. Di sisi lain, diet OMAD juga memiliki berbagai kekurangan.

Pola makan satu kali sehari menuntut disiplin tinggi dan kerap memicu rasa lapar berlebihan. Penelitian tahun 2022 yang dipublikasikan di National Library of Medicine bahkan mengaitkan kebiasaan makan satu kali sehari dengan peningkatan risiko kematian, termasuk akibat penyakit kardiovaskular.

Selain itu, diet OMAD dikhawatirkan dapat memicu lonjakan gula darah, meningkatkan tekanan darah, serta memperburuk kadar kolesterol. Karena itu, para ahli menyarankan agar metode diet ekstrem seperti OMAD dilakukan dengan pertimbangan matang dan pengawasan tenaga medis.