Media Kampung – 23 Maret 2026 | Mega Crit, pengembang Slay the Spire II, menghadapi lonjakan review negatif di Steam setelah peluncuran patch beta v0.100.0. Lebih dari 9.000 ulasan buruk muncul dalam sehari, menyoroti ketidakpuasan pemain terhadap perubahan keseimbangan.
Patch tersebut memperkenalkan serangkaian penyesuaian besar pada kartu dan mekanik, serta fitur aksesibilitas Phobia Mode yang mengurangi visual menakutkan. Perubahan utama ditujukan untuk membatasi build tak terbatas yang sebelumnya dapat memutarbalikkan permainan.
Banyak pemain melaporkan bahwa build populer kini terasa lemah atau tidak lagi dapat dijalankan secara konsisten. Kritik tersebut menumpuk cepat, memicu label “review bomb” di halaman Steam game.
Menanggapi kritik, Mega Crit mengeluarkan pernyataan resmi di X (dulu Twitter) pada 21 Maret. Mereka menekankan bahwa umpan balik diambil dari kombinasi data pemain, metrik permainan, dan filosofi desain internal.
Menurut pengembang, masukan yang paling berharga berasal dari laporan dalam game yang dikirimkan oleh pemain yang sedang menguji patch. Data tersebut dianggap lebih relevan dibandingkan komentar di luar platform.
Studio menegaskan bahwa patch beta merupakan langkah awal dari serangkaian penyesuaian yang direncanakan selama satu hingga dua tahun ke depan. Mereka memperkirakan beberapa pembaruan keseimbangan akan dirilis secara berkala.
Proses penyesuaian dijelaskan sebagai iteratif dan tidak linier; tidak ada perubahan yang dijamin permanen. Mega Crit menambahkan bahwa setiap pembaruan akan diuji di cabang beta sebelum dipindahkan ke cabang utama.
Partisipasi dalam cabang beta bersifat opsional, tetapi pengembang mengajak pemain untuk bergabung demi mempercepat penyempurnaan game. Mereka menyatakan bahwa kontribusi komunitas membantu membentuk versi final Slay the Spire II.
Patch pertama ini juga menambahkan Phobia Mode, yang menurunkan intensitas visual yang dianggap mengganggu. Fitur ini diharapkan meningkatkan aksesibilitas bagi pemain dengan sensitivitas tertentu.
Selain penyesuaian keseimbangan, tim Mega Crit menargetkan penghapusan loop tak berujung yang memungkinkan pemain melakukan run hampir tak terbatas. Ini dimaksudkan untuk menegakkan tantangan yang lebih konsisten.
Reaksi negatif di Steam tidak menghentikan rencana pengembang untuk melanjutkan fase Early Access. Mereka menegaskan bahwa umpan balik kini menjadi bahan pertimbangan utama dalam roadmap pengembangan.
Dalam konteks berita game minggu ini, Slay the Spire II menjadi sorotan utama bersama judul lain seperti Assassin’s Creed dan Minecraft, yang juga mengalami pembaruan. Namun, situasi review bomb menandai dinamika unik di antara game indie.
Pengamat industri mencatat bahwa review bomb seringkali mencerminkan ketidakpuasan sementara terhadap perubahan besar, bukan kegagalan keseluruhan produk. Mereka menyarankan pemain memberi waktu bagi pengembang mengimplementasikan penyesuaian selanjutnya.
Mega Crit berjanji akan terus memantau metrik permainan dan umpan balik pemain untuk menyesuaikan keseimbangan secara berkelanjutan. Mereka menutup pernyataan dengan ucapan terima kasih atas kesabaran komunitas.
Dengan rencana pembaruan berkelanjutan, Slay the Spire II diproyeksikan tetap menjadi pilihan utama bagi penggemar deck‑builder, asalkan keseimbangan akhir tercapai. Komunitas diharapkan melihat perbaikan dalam ulasan seiring waktu.
Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.









Tinggalkan Balasan