League of Legends Voice Chat akhirnya memasuki tahap uji coba publik setelah lebih dari 16 tahun game ini berjalan tanpa fitur komunikasi suara untuk solo queue. Fitur tersebut terpantau aktif di server Public Beta Environment (PBE) dan tengah disempurnakan sebelum dirilis secara resmi oleh Riot Games.
Informasi mengenai kehadiran voice chat ini mencuat dari komunitas setelah kreator konten membagikan temuan fitur tersebut di server uji coba. Dalam versi PBE, pengaturan voice chat sudah muncul di klien game, tepatnya pada menu “Voice”, yang memungkinkan pemain mengatur preferensi komunikasi mereka.
Pada tahap uji coba ini, pemain diberi keleluasaan penuh untuk menentukan apakah ingin bergabung dalam team voice chat atau tidak. Sistem juga menyediakan dua opsi utama, yakni mode open mic yang aktif berdasarkan deteksi suara serta mode push-to-talk yang dioperasikan melalui tombol tertentu. Dengan skema tersebut, pemain tetap dapat memilih untuk tidak mengaktifkan komunikasi suara jika merasa kurang nyaman.
Selama ini, komunikasi suara di League of Legends hanya tersedia bagi pemain yang tergabung dalam party premade sebelum matchmaking dimulai. Jika fitur ini benar-benar dirilis ke server utama, maka komunikasi suara berpotensi terbuka untuk seluruh anggota tim, termasuk pemain solo queue yang sebelumnya hanya mengandalkan chat teks dan sistem ping.
Kehadiran voice chat dinilai dapat membawa perubahan signifikan terhadap dinamika permainan. League of Legends dikenal sebagai game yang sangat mengandalkan koordinasi tim, mulai dari perebutan objektif seperti Dragon dan Baron, pengaturan vision, hingga pengambilan keputusan dalam teamfight krusial. Dengan komunikasi suara, instruksi taktis dapat disampaikan secara real-time tanpa harus mengetik atau mengandalkan sinyal visual.
Namun, di balik potensi peningkatan koordinasi tersebut, muncul pula kekhawatiran soal risiko perilaku toxic. Komunitas kompetitif League of Legends selama ini kerap diwarnai laporan perilaku tidak sportif. Komunikasi suara dinilai dapat memperbesar peluang terjadinya tekanan verbal, terutama dalam pertandingan ranked yang ketat.
Riot disebut-sebut berhati-hati dalam mengimplementasikan fitur ini. Opsi opt-out tetap tersedia agar pemain bisa menonaktifkan voice chat. Meski demikian, sebagian pemain menilai absennya partisipasi dalam komunikasi suara berpotensi memengaruhi efektivitas koordinasi tim, terutama di tingkat kompetitif tinggi.
Belum ada pengumuman resmi mengenai tanggal rilis global voice chat untuk server utama. Riot masih melakukan penyempurnaan sistem, termasuk aspek moderasi dan pengawasan perilaku pemain. Jika implementasinya berjalan efektif, fitur ini berpotensi menjadi salah satu perubahan terbesar dalam sejarah League of Legends sejak pertama kali dirilis pada 2009.









Tinggalkan Balasan