Media Kampung – 30 Maret 2026 | Menteri Koperasi dan UKM Ferry Juliantono menjelaskan bahwa truk dan pikap yang diimpor dari India akan tetap dipergunakan untuk Koperasi Merah Putih. Kendaraan tersebut dianggap murah dan siap memperlancar distribusi barang di desa.
Impor tersebut meliputi 35.000 unit pikap 4×4 buatan Mahindra Ltd serta 35.000 unit pikap dan 35.000 unit truk roda enam dari Tata Motors. Total nilai impor mencapai sekitar Rp24,66 triliun.
Pemerintah menargetkan lebih dari 80.000 Koperasi Merah Putih tersebar di seluruh desa dan kelurahan Indonesia. Setiap koperasi akan menerima satu truk, satu pikap, dan satu sepeda motor sebagai sarana logistik.
Hingga kini sekitar 2.400 koperasi telah menerima kendaraan operasional, mencakup truk dan pikap yang diimpor. Distribusi ini diharapkan meningkatkan efisiensi rantai pasok produk pertanian.
Ferry menegaskan bahwa pilihan impor didorong oleh keterbatasan produksi domestik untuk kendaraan 4×4. “Industri dalam negeri belum mampu memenuhi kebutuhan khusus kami,” ujarnya dalam acara halal bihalal di Bandung.
Meskipun demikian, Ferry mengakui pentingnya mendukung industri otomotif nasional. Ia menambahkan bahwa pemerintah tetap memprioritaskan produk dalam negeri bila tersedia.
Untuk menutupi sisa kebutuhan koperasi, Ferry telah berkoordinasi dengan Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita dan asosiasi Gaikindo. Kesepakatan tersebut mencakup pengalihan sebagian impor ke produsen dalam negeri.
Pemerintah juga menyediakan fasilitas permodalan awal bagi koperasi dengan plafon hingga Rp3 miliar per unit. Pinjaman ditawarkan dengan bunga sekitar 6 persen per tahun dan tenor 6‑10 tahun.
Syarat tambahan meliputi masa tenggang (grace period) selama 6‑8 bulan sebelum pembayaran pertama dimulai. Kebijakan ini dirancang agar koperasi dapat menyesuaikan arus kas operasional.
Data resmi menunjukkan bahwa Agrinas Pangan mengimpor total 105.000 kendaraan dari India. Angka ini mencakup 70.000 unit pikap dan 35.000 unit truk.
Impor dilakukan karena produsen Indonesia belum menyediakan model 4×4 dengan spesifikasi yang dibutuhkan koperasi. Harga unit India diperkirakan lebih kompetitif dibandingkan alternatif lain.
Ferry menilai harga murah tersebut akan menurunkan beban biaya logistik koperasi. “Harga yang terjangkau memungkinkan kami menyebarkan bantuan ke lebih banyak wilayah,” katanya.
Pemerintah berencana memperluas jaringan Koperasi Merah Putih menjadi lebih dari 80.000 unit dalam lima tahun ke depan. Target ini sejalan dengan agenda pembangunan ekonomi desa.
Setiap koperasi yang sudah lengkap dengan infrastruktur fisik, gudang, dan gerai akan menjadi prioritas penerima kendaraan. Hal ini diharapkan mempercepat pencapaian kemandirian pangan.
Koordinasi lintas kementerian mencakup Kementerian Pertanian, Kementerian Perindustrian, dan Badan Koordinasi Penanaman Modal. Sinergi tersebut dimaksudkan untuk mengoptimalkan rantai pasok nasional.
Kritik terhadap impor muncul dari sektor otomotif yang menuntut perlindungan pasar domestik. Ferry menanggapi dengan menegaskan bahwa kebijakan bersifat sementara dan responsif.
Ia menambahkan bahwa setelah kebutuhan mendesak terpenuhi, fokus akan dialihkan pada pengembangan pabrikan dalam negeri. Upaya ini selaras dengan program Make in Indonesia.
Para pengamat menilai langkah ini dapat menstimulasi kompetisi harga di pasar kendaraan niaga. Dampak positifnya diharapkan terasa pada penurunan biaya distribusi produk pertanian.
Koperasi yang menerima truk dan pikap melaporkan peningkatan kecepatan pengiriman hingga 30 persen. Hal ini berkontribusi pada penurunan harga jual produk di pasar lokal.
Secara keseluruhan, pemerintah berkomitmen menjaga kelancaran logistik Koperasi Merah Putih melalui impor yang terkontrol sekaligus memperkuat industri otomotif nasional. Kebijakan ini mencerminkan keseimbangan antara kebutuhan mendesak dan tujuan jangka panjang.
Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.









Tinggalkan Balasan