Media Kampung – 27 Maret 2026 | Harga bahan pangan nasional diproyeksikan naik tajam satu hari sebelum Lebaran, menambah beban inflasi pada akhir tahun.

Ekonom senior Universitas Paramadina, Wijayanto Samirin, menyatakan bahwa tekanan inflasi sudah berada pada level tinggi sebelum musim lebaran dimulai.

Ia menyoroti kombinasi faktor domestik, seperti kebijakan Makan Bergizi Gratis (MBG), dan faktor eksternal, termasuk pelemahan rupiah, yang bersama-sama mendorong harga pangan naik.

Permintaan domestik meningkat karena MBG, sementara nilai tukar rupiah yang melemah memperbesar biaya impor bahan pokok.

Data inflasi tahun-ke-tahun pada Februari 2026 mencatat angka 4,76 persen, dipicu oleh kenaikan harga makanan dan energi.

Samirin memperkirakan inflasi tahunan pada Maret 2026 dapat mendekati 5 persen jika tekanan harga terus berlanjut.

Menurutnya, tiga pendorong utama – permintaan domestik, imported inflation, dan momentum Lebaran – akan saling memperkuat dalam periode mendatang.

Namun, faktor penahan muncul dari kebijakan sebelumnya, yaitu insentif diskon listrik yang berakhir pada Maret 2025, yang dulu membantu menurunkan inflasi.

Yusuf Rendy Manilet, ekonom CORE Indonesia, menilai kenaikan inflasi lebih dipengaruhi oleh faktor musiman dan teknis, bukan lonjakan permintaan yang signifikan.

Ia memperkirakan inflasi pada periode Lebaran 2026 berada di kisaran 2,5 hingga sedikit di atas 3 persen, masih dalam batas terkendali.

Yusuf menegaskan bahwa daya beli masyarakat belum pulih sepenuhnya, sehingga permintaan tambahan selama Lebaran terbatas.

Struktur inflasi masih didominasi oleh kelompok pangan volatil, terutama cabai, ayam, dan bahan pokok lain yang biasanya naik menjelang lebaran.

Pergerakan harga komoditas tersebut masih mengikuti pola musiman yang normal meski ada tekanan tambahan.

Inflasi inti, yang mencerminkan kondisi fundamental ekonomi, tetap relatif stabil menurut analisis Yusuf.

Stabilitas inti menandakan bahwa tekanan inflasi belum meluas ke seluruh sektor ekonomi.

Efek basis rendah pada tahun sebelumnya membuat angka inflasi tahunan terlihat lebih tinggi secara statistik.

Sentimen pasar terbagi; di satu sisi pasokan pangan masih cukup, tetapi risiko gangguan pasokan tetap mengintai.

Risiko tersebut meliputi potensi kenaikan harga BBM, kelanjutan pelemahan rupiah, serta dampak El Nino terhadap produksi pertanian.

Jika El Nino memperparah kondisi cuaca, produksi cabai dan komoditas penting lainnya dapat menurun, menambah tekanan harga.

Bank Indonesia diperkirakan akan terus memantau pasar dan menyiapkan intervensi bila diperlukan.

Pemerintah juga menyiapkan langkah penstabilan harga, termasuk pengawasan pasar dan penambahan stok pangan strategis.

Stok beras Bulog tercatat 3,7 juta ton, menunjukkan upaya pemerintah menjaga ketersediaan pangan.

Meskipun demikian, distribusi beras ke daerah terpencil masih menjadi tantangan logistik.

Peningkatan harga transportasi menjelang lebaran turut menambah beban biaya hidup konsumen.

Penggunaan bahan bakar yang lebih tinggi pada musim mudik mempercepat kenaikan tarif BBM.

Kenaikan tarif BBM dapat menambah biaya produksi dan distribusi pangan, memperburuk inflasi makanan.

Para pedagang pasar tradisional melaporkan lonjakan harga cabai rawit merah sejak awal Februari.

Harga cabai naik hampir 30 persen dibanding bulan sebelumnya, mencerminkan dinamika permintaan dan pasokan.

Ayam kampung juga mengalami kenaikan harga sekitar 20 persen menjelang Lebaran.

Peningkatan harga ayam dipicu oleh biaya pakan yang turut terpengaruh oleh nilai tukar rupiah.

Secara keseluruhan, tekanan harga pangan diperkirakan akan tetap tinggi selama periode lebaran.

Kebijakan pemerintah untuk menstabilkan harga akan menjadi faktor penentu apakah inflasi dapat terkendali.

Jika intervensi berhasil, inflasi tahunan dapat tetap berada di bawah batas toleransi Bank Indonesia.

Jika tidak, risiko terjadinya spiral harga dapat menggerus daya beli rumah tangga lebih lanjut.

Pengamat ekonomi menekankan pentingnya koordinasi kebijakan fiskal dan moneter untuk menahan laju inflasi.

Dengan kombinasi faktor struktural dan musiman, prospek inflasi makanan pada Lebaran 2026 tetap menjadi perhatian utama.

Pengawasan harga secara ketat dan penambahan stok strategis menjadi kunci mengurangi beban konsumen menjelang hari raya.

Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.