Media Kampung – 26 Maret 2026 | Rabu, 25 Maret 2026, harga emas Antam yang diperdagangkan di jaringan Pegadaian tetap berada di level Rp 2.850.000 per gram. Harga tersebut tidak berubah sejak hari sebelumnya.

Data resmi yang diambil dari portal Logam Mulia menegaskan bahwa nilai jual emas Antam konsisten pada angka tersebut pada pukul 08.30 WIB. Hal ini mencerminkan stabilitas pasar emas domestik dalam kondisi global yang bergejolak.

Di samping harga jual, harga beli kembali (buyback) mengalami penurunan kecil menjadi Rp 2.490.000 per gram, turun dari Rp 2.507.000 pada hari Kamis. Penurunan ini menjadi perhatian bagi investor ritel yang mengandalkan likuiditas cepat.

Penurunan buyback dipicu oleh pergerakan nilai tukar rupiah yang melemah terhadap dolar AS dalam beberapa hari terakhir. Kebijakan bank sentral Indonesia yang menyesuaikan suku bunga turut memperkecil selisih profit bagi penjual kembali.

Meskipun demikian, penjual emas fisik di Pegadaian tetap menawarkan beragam ukuran, mulai dari 0,5 gram hingga 1.000 gram. Setiap ukuran memiliki harga yang proporsional, misalnya 1 gram dijual Rp 2.850.000 dan 10 gram Rp 28.975.000.

Harga pecahan emas Antam di Pegadaian sedikit lebih tinggi dibandingkan dengan harga yang dipublikasikan oleh Antam sendiri, yang mencatat Rp 2.850.000 per gram tanpa variasi. Selisih ini biasanya disebabkan oleh biaya operasional outlet dan pajak.

Transaksi jual beli emas di Pegadaian dikenakan pajak penghasilan pasal 22, sebesar 0,45 persen bagi pemegang NPWP dan 0,9 persen bagi non‑NPWP. Pemotongan pajak dilakukan secara otomatis pada saat pembayaran.

Bagi nasabah yang memilih layanan Tabungan Emas, harga beli saldo emas pada 25 Maret tercatat Rp 27.620 per 0,01 gram, sedangkan harga jual kembali (buyback) berada di Rp 26.510 per 0,01 gram. Kedua nilai tersebut berada di level yang sama dengan hari sebelumnya.

Kondisi pasar emas dunia pada hari itu diperdagangkan mendekati USD 4.500 per ounce, menandakan tekanan bullish yang tetap kuat. Fluktuasi nilai dolar dan kebijakan moneter AS menjadi faktor utama yang memengaruhi harga emas internasional.

Analisis pakar pasar keuangan menilai bahwa stabilitas harga emas Antam di Indonesia dipengaruhi oleh kebijakan pemerintah yang menahan volatilitas melalui cadangan devisa. Mereka menambahkan bahwa permintaan domestik tetap kuat terutama dari kalangan perorangan.

Permintaan emas fisik di Indonesia terus didorong oleh tradisi perayaan keagamaan dan kebutuhan investasi jangka panjang. Pegadaian sebagai institusi resmi menjadi salah satu jalur utama bagi konsumen untuk mengamankan nilai aset.

Sementara itu, harga UBS dan Galeri24 yang diperdagangkan di Pegadaian menunjukkan kenaikan ringan, masing‑masing Rp 1.527.000 dan Rp 1.483.000 untuk ukuran 0,5 gram. Hal ini menandakan kompetisi harga antar produsen batangan.

Perbedaan harga antar merek emas mencerminkan variasi biaya produksi, distribusi, dan margin keuntungan masing‑masing. Konsumen biasanya membandingkan harga tersebut sebelum memutuskan pembelian.

Pemerintah melalui Otoritas Jasa Keuangan terus memantau transaksi emas untuk memastikan kepatuhan terhadap peraturan pajak dan anti pencucian uang. Pengawasan ini diharapkan menjaga integritas pasar.

Sebagai tambahan, lembaga keuangan lain seperti PT Hartadinata Abadi juga menawarkan harga serupa, sehingga konsumen memiliki pilihan lebih luas. Namun, Pegadaian tetap menjadi pilihan utama karena jaringan yang tersebar luas.

Investor institusional memperhatikan pergerakan harga emas Antam sebagai indikator sentimen inflasi domestik. Kenaikan harga energi dan ketegangan geopolitik di Timur Tengah menambah tekanan pada inflasi.

Meskipun ada tekanan eksternal, stabilitas harga emas Antam di Pegadaian pada Rabu 25 Maret memberikan sinyal positif bagi pelaku pasar yang mengandalkan emas sebagai safe‑haven. Hal ini mendukung kepercayaan konsumen terhadap nilai tukar rupiah.

Secara keseluruhan, harga emas Antam tetap pada Rp 2,85 juta per gram dengan buyback sedikit turun, sementara layanan tabungan emas tetap menawarkan nilai yang kompetitif. Kondisi ini diharapkan berlanjut selama volatilitas pasar global tetap terkendali.

Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.