Media Kampung – 25 Maret 2026 | Bitcoin kembali menembus batas USD 70.000 pada awal minggu ini, menandai pemulihan signifikan setelah penurunan tajam sebelumnya. Para analis menilai level tersebut menjadi titik tolak penting menuju target jangka menengah di atas USD 100.000.

Pemulihan harga dipicu oleh meredanya ketegangan geopolitik setelah Amerika Serikat menghentikan serangan temporer terhadap infrastruktur energi Iran. Langkah tersebut menurunkan harga minyak mentah dan mengurangi tekanan inflasi global.

Data dari platform data kripto Wintermute mencatat pergerakan Bitcoin dari kisaran USD 68.000 hingga menembus USD 71.000 dalam rentang waktu 24 jam. Lonjakan tersebut mencerminkan aliran dana kembali ke aset berisiko.

Sementara itu, Federal Reserve mempertahankan suku bunga utama pada kisaran 3,50‑3,75 %, menandakan kebijakan moneter masih berada pada posisi ketat. Kebijakan tersebut membatasi likuiditas namun tidak menghentikan minat spekulatif pada kripto.

Geopolitik tetap menjadi faktor utama; harga minyak Brent sempat melampaui USD 112 per barel karena gangguan di Timur Tengah, namun kembali turun setelah konflik mereda. Penurunan energi mengurangi ekspektasi inflasi dan membuka ruang bagi investasi alternatif.

Ethereum menunjukkan ketahanan yang relatif lebih baik, dengan permintaan meningkat pada layanan staking yang menawarkan imbal hasil tinggi di tengah suku bunga global yang kuat. Stabilitas ini menambah diversifikasi portofolio kripto investor.

Produk ETF Bitcoin mengalami arus keluar dana jangka pendek saat pasar mengalami koreksi, namun aliran dana keseluruhan tetap stabil. Hal ini mengindikasikan bahwa minat institusional belum berkurang secara signifikan.

Analis Bernstein menilai Bitcoin telah mencapai titik terendahnya dan memperkirakan kenaikan 114 % hingga akhir tahun, dengan perkiraan harga USD 150.000. Prediksi tersebut memperkuat pandangan bahwa level USD 70.000 dapat menjadi pijakan menuju rentang tiga digit.

Seorang analis senior di Bernstein menyatakan, “Pasar kripto sedang memasuki fase pemulihan yang didukung oleh kebijakan moneter yang konsisten dan perbaikan kondisi geopolitik.” Pernyataan tersebut menegaskan keyakinan terhadap tren naik.

Perusahaan kripto Strategy menunjukkan kemampuan menambah kepemilikan Bitcoin meski pasar melemah, dengan akumulasi sekitar 86.000 BTC selama tahun ini. Total kepemilikan Strategy kini mencapai 762.099 BTC, senilai sekitar USD 53,2 miliar.

Platform prediksi pasar Myriad mencatat persepsi investor terbagi, dengan peluang 50 % Bitcoin naik ke USD 84.000 dan 50 % turun ke USD 55.000 dalam jangka pendek. Data ini mencerminkan ketidakpastian meski tren jangka menengah tetap bullish.

Jika jalur pengiriman energi melalui Selat Hormuz kembali normal, model analitik memperkirakan Bitcoin dapat menembus USD 76.000 dalam beberapa minggu ke depan. Kondisi logistik energi yang stabil diyakini akan menurunkan volatilitas pasar.

Investor institusional kini menimbang kembali eksposur mereka, mengingat potensi kenaikan nilai aset digital yang signifikan. Diversifikasi melalui Bitcoin dan aset blockchain lainnya dianggap sebagai lindung nilai terhadap inflasi dan ketidakstabilan fiat.

Meskipun prospek harga menjanjikan, risiko regulasi dan fluktuasi geopolitik tetap menjadi variabel yang harus dipantau. Keputusan kebijakan moneter AS dan perkembangan di Timur Tengah akan terus memengaruhi arah pasar.

Secara keseluruhan, kombinasi faktor makroekonomi, kebijakan moneter, dan stabilisasi geopolitik menciptakan lingkungan yang kondusif bagi Bitcoin untuk melampaui ambang USD 70.000. Analisis lintas sumber menunjukkan momentum yang kuat untuk melanjutkan rally.

Para pelaku pasar disarankan tetap mengedepankan manajemen risiko sambil memanfaatkan peluang pertumbuhan yang muncul, karena Bitcoin berada pada posisi strategis untuk mencapai target USD 100.000 atau lebih dalam skenario optimis.

Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.