Media Kampung – 25 Maret 2026 | Jakarta, 25 Maret 2026 – Bitcoin mencatat kenaikan sekitar 12% dalam 60 hari terakhir, diperdagangkan antara US$70.000 dan US$71.000, sementara pasar saham dan emas mengalami penurunan signifikan.

Indeks S&P 500 turun hampir empat persen, dan harga emas melemah hingga 16% – penurunan terbesar sejak 1983, menandai tekanan luas pada aset tradisional.

Peningkatan harga minyak akibat konflik di Timur Tengah memperburuk ekspektasi inflasi, memicu Fed mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama, yang mengurangi daya tarik emas yang tidak memberi imbal hasil.

Vice President Indodax, Antony Kusuma, menyatakan bahwa pola kenaikan Bitcoin selama krisis bukanlah hal baru, mencatat contoh serupa pada pandemi COVID‑19, ketegangan AS‑Iran 2020, serta konflik Rusia‑Ukraina.

‘Desentralisasi, likuiditas 24 jam, dan independensi dari sistem perbankan membuat Bitcoin relevan saat stabilitas keuangan terganggu,’ kata Antony dalam pernyataan tertulis Rabu, 25 Maret 2026.

Menurut kepala strategi logam JPMorgan, Greg Shearer, penurunan emas dipicu sell‑off di tengah lonjakan harga minyak, penguatan dolar AS, serta peningkatan hasil obligasi yang menarik bagi investor institusional.

Ketegangan di Selat Hormuz menambah risiko inflasi global karena gangguan pasokan energi, memperkuat persepsi bahwa aset digital dapat berfungsi sebagai lindung nilai.

Data internal Indodax memperlihatkan volume perdagangan Bitcoin meningkat sekitar 18% selama dua bulan terakhir, mengindikasikan minat investor ritel dan institusi yang lebih besar.

Meskipun Bitcoin menunjukkan performa kuat, pasar kripto tetap volatil; analis memperingatkan bahwa faktor makroekonomi seperti kebijakan suku bunga dan inflasi akan terus memengaruhi pergerakan harga.

Antony menekankan pentingnya manajemen risiko, menyarankan investor untuk tidak menaruh seluruh portofolio pada satu aset, melainkan mempertimbangkan diversifikasi yang seimbang.

Sementara emas mengalami penurunan, beberapa bank sentral masih mempertahankan cadangan emas, namun permintaan fisik diproyeksikan melambat selama kuartal berikutnya.

Saham teknologi yang sebelumnya mendominasi indeks Nasdaq juga tertekan, menambah tekanan pada aset yang biasanya dianggap aman dalam situasi geopolitik yang tidak menentu.

Observasi pasar global menunjukkan bahwa volatilitas mata uang kripto kini dipengaruhi oleh kebijakan moneter utama, terutama keputusan Fed dan ECB mengenai suku bunga.

Para pengamat menilai bahwa Bitcoin dapat terus berperan sebagai ‘digital gold’ bila kondisi geopolitik tetap tidak stabil, namun tetap harus dipertimbangkan risiko likuiditas dan regulasi.

Secara keseluruhan, peningkatan Bitcoin menandai pergeseran sentimen investor yang mencari alternatif perlindungan nilai di tengah gejolak energi, inflasi, dan kebijakan moneter global.

Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.