Media Kampung – 25 Maret 2026 | Jakarta, 24 Maret 2026 – Harga emas batangan Antam stabil di Rp 2.843.000 per gram, namun harga beli kembali (buyback) turun tajam menjadi Rp 2.480.000 per gram, mencatat penurunan Rp 80.000 dalam satu hari.
Penurunan tersebut menandai penurunan berkelanjutan sejak tiga hari sebelum Lebaran, ketika harga buyback sempat berada di Rp 2.847.000 per gram.
Data butik Antam Medan mencatat harga jual tidak berubah, sementara selisih antara harga jual dan buyback kini mencapai sekitar Rp 400.000 per gram, menurunkan margin penjual yang ingin menukarkan emas ke toko.
Harga buyback sebelumnya sempat mencapai puncak Rp 2.989.000 per gram pada 29 Januari 2026, dan pada 3 Januari 2026 tercatat terendah Rp 2.346.000 per gram, menunjukkan volatilitas yang signifikan dalam tiga bulan terakhir.
Penyebab utama penurunan harga emas global dikaitkan dengan gejolak di timur tengah, di mana ketegangan geopolitik mengganggu pasokan energi dan menurunkan permintaan logam mulia sebagai aset lindung nilai.
Konflik antara Iran dan Israel serta pembatasan produksi minyak di wilayah tersebut menurunkan ekspektasi inflasi, sehingga investor beralih dari emas ke aset lain, menekan harga spot di pasar internasional.
Dampak regional terlihat pada perbedaan harga antar kota; butik Logam Mulia Jakarta menjual emas Antam pada level yang sama, namun biaya pengiriman dan asuransi menambah premi bagi pembeli di Medan.
Pemerintah tetap menerapkan pajak atas transaksi jual beli emas sesuai PMK No 34/PMK.10/2017, dengan pemotongan PPh 22 sebesar 1,5 % bagi pemegang NPWP dan 3 % bagi non‑NPWP pada penjualan di atas Rp 10 juta.
Pada saat yang sama, pembelian emas batangan dikenakan PPh 22 sebesar 0,45 % untuk NPWP dan 0,9 % untuk non‑NPWP, sehingga total beban pajak dapat memengaruhi keputusan investasi.
Analis pasar logam mulia, Budi Santoso, menyatakan bahwa “penurunan harga buyback mencerminkan tekanan likuiditas dan ekspektasi pergerakan nilai tukar rupiah yang belum stabil,” menambahkan bahwa pasar dapat berbalik jika geopolitik meredam.
Ia menekankan bahwa investor ritel sebaiknya memperhatikan selisih spread antara harga jual dan buyback serta faktor biaya tambahan seperti pengiriman, asuransi, dan pajak sebelum memutuskan transaksi.
Dengan harga emas yang berada pada level terendah sejak 1983, pasar domestik diperkirakan akan tetap sensitif terhadap perkembangan konflik Timur Tengah serta kebijakan moneter Bank Indonesia ke depan.
Pengamat ekonomi, Rina Kurnia, menuturkan bahwa “kondisi ini memberi peluang bagi pembeli baru, namun risiko penurunan lebih lanjut tetap tinggi bila ketegangan geopolitik berlanjut,” menutup dengan harapan stabilitas harga dalam jangka menengah.
Kondisi pasar emas yang belum pulih menuntut kewaspadaan bagi semua pelaku, sementara otoritas terus memantau fluktuasi untuk menghindari dampak signifikan pada sektor keuangan.
Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.









Tinggalkan Balasan