Media Kampung – 24 Maret 2026 | Harga emas dunia mengalami penurunan signifikan pada pekan lalu, menembus level psikologis US$5.000 per ons dan berakhir di bawah US$4.500 per ons. Penurunan tersebut mencerminkan sentimen pasar yang kini cenderung bearish.
Data Kitco menunjukkan bahwa pada awal minggu harga spot terbuka di US$5.023,53 per ons, namun segera tertekan setelah menembus support penting di sekitar US$4.970. Dalam dua jam harga menyentuh US$4.860 sebelum terus meluncur.
Rilis data indeks harga produsen (PPI) yang lebih tinggi dari perkiraan serta pernyataan Ketua Federal Reserve Jerome Powell tentang kebijakan suku bunga memperburuk tekanan. Pasar kemudian menurunkan harga emas ke kisaran US$4.800, lalu ke US$4.538 pada sesi Asia.
Rebound singkat ke US$4.730 tidak cukup menghentikan tren penurunan, sehingga pada akhir pekan emas mencatat level terendah mingguan US$4.477,54 dan ditutup di bawah US$4.500 per ons.
Survei mingguan Kitco mengindikasikan perubahan tajam dalam sentimen, dengan mayoritas analis Wall Street kini memandang prospek jangka pendek emas secara pesimis. Investor ritel pun mulai mengadopsi posisi bearish.
Rich Checkan, Presiden Asset Strategies International, tetap optimis bahwa harga emas akan pulih dalam jangka menengah, meski ia mengakui tekanan jangka pendek masih kuat.
Greg Shearer, Kepala Strategi Logam Mulia di JPMorgan, menyebut penurunan ini sebagai “brutal” dan mengaitkannya dengan aksi jual besar-besaran akibat konflik di Timur Tengah serta kenaikan harga minyak.
Shearer menambahkan bahwa penguatan dolar AS dan kenaikan imbal hasil obligasi menambah beban pada logam mulia yang tidak memberikan imbal hasil. Kondisi ini membuat emas kurang menarik dibandingkan instrumen berbunga.
Ewa Manthey, Strategist Komoditas di ING, menilai bahwa likuiditas tinggi dan ekspektasi inflasi yang naik memaksa investor mencari aset lain, memperparah penurunan harga emas.
Menurut Ibrahim Assuaibi, analis pasar komoditas, harga emas dunia pada penutupan terakhir berada di US$4.497,37 per ons, memicu tekanan pada harga domestik yang turun ke sekitar Rp2.893.000 per gram.
Assuaibi mengidentifikasi support pertama di US$4.423,06 per ons dan support kedua di US$4.319 per ons, yang bila terpelintir dapat menurunkan harga domestik hingga Rp2.800.000 per gram.
Resistensi pertama diproyeksikan di US$4.559,86 per ons, dengan potensi melanjutkan kenaikan harga domestik ke sekitar Rp2.920.000 per gram jika sentimen berbalik.
Jika harga emas berhasil menembus resistensi kedua di US$4.681,50 per ons, nilai tukar rupiah dapat menahan kenaikan harga domestik di kisaran Rp2.980.000 per gram.
Penguatan dolar AS yang konsisten dan kemungkinan tidak adanya pemotongan suku bunga oleh bank sentral global menambah ketidakpastian bagi logam mulia. Beberapa pejabat di Eropa bahkan mempertimbangkan kenaikan suku bunga acuan.
Kombinasi faktor geopolitik, tekanan inflasi, dan pergerakan nilai tukar menciptakan lingkungan yang tidak mendukung pemulihan harga emas dalam waktu dekat.
Meski demikian, para analis tetap menilai prospek jangka panjang emas tetap positif, mengingat peran historisnya sebagai lindung nilai terhadap inflasi.
Pembeli institusi, termasuk bank sentral, diperkirakan akan menyesuaikan kebijakan alokasi logam mulia seiring perubahan likuiditas global.
Investor ritel disarankan memantau level teknikal utama serta perkembangan kebijakan moneter untuk mengatur eksposur pada logam mulia.
Dengan volatilitas yang tinggi, pasar emas diprediksi akan tetap berada dalam kisaran lebar selama beberapa minggu ke depan sebelum tren baru terbentuk.
Secara keseluruhan, penurunan tajam harga emas mencerminkan dinamika pasar yang dipengaruhi oleh kebijakan suku bunga, nilai tukar dolar, dan ketegangan geopolitik, sementara optimisme jangka panjang masih menjadi landasan bagi sebagian besar analis.
Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.









Tinggalkan Balasan