Media Kampung – 23 Maret 2026 | Ketegangan militer di Timur Tengah memicu lonjakan harga minyak dunia dan menaikkan biaya logistik internasional.
Situasi ini menimbulkan kecemasan di kalangan pelaku ekspor Indonesia meski pangsa pasar ke kawasan tersebut kecil.
Data Badan Pusat Statistik yang dipadukan dengan riset Indonesia Eximbank Institute menunjukkan ekspor ke Timur Tengah hanya menyumbang 4,2 % dari total ekspor nasional.
Impor dari wilayah itu berada di level 3,9 % dan didominasi komoditas energi, sehingga eksposur langsung Indonesia terbatas.
Mayoritas produk Indonesia tetap mengalir ke Asia Timur, Asia Tenggara, Amerika Utara, Asia Selatan, dan Eropa Barat.
Karena itu, kondisi ekonomi di pasar‑pasar utama tersebut lebih menentukan kinerja ekspor secara keseluruhan.
Rini Satriani, kepala Indonesia Eximbank Institute, menegaskan lembaganya memantau dinamika konflik, terutama keamanan Selat Hormuz.
“Selat Hormuz adalah arteri utama perdagangan energi dunia, gangguan di sana dapat memicu kenaikan harga secara signifikan,” ujarnya.
Kawasan Timur Tengah menghasilkan lebih dari tiga puluh persen produksi minyak global, dengan sekitar dua puluh‑tiga puluh persen perdagangan minyak melewati Selat Hormuz.
Setiap hambatan pada jalur ini berpotensi menambah biaya transportasi bagi negara‑negara penyalur energi, termasuk Indonesia yang mengimpor melalui perantara.
Indonesia tidak langsung membeli minyak dari Timur Tengah, namun mengandalkan pasokan dari Singapura dan Malaysia yang menyediakan sekitar 75 % kebutuhan minyak nasional.
Kenaikan harga energi global akibat konflik tersebut menekan neraca perdagangan Indonesia lewat biaya impor yang lebih tinggi.
Selain energi, gangguan rantai pasok pupuk memperlihatkan kenaikan harga 30‑40 % pada pasar internasional.
Peningkatan biaya input pertanian mengancam produktivitas dan menambah beban pada konsumen domestik.
Berbagai negara mulai menerapkan langkah penghematan energi, mulai dari kerja dari rumah hingga pembatasan penggunaan listrik industri.
Thailand, Bangladesh, dan Sri Lanka melaporkan kebijakan pembatasan konsumsi listrik serta penjadwalan ulang kegiatan produksi.
Langkah serupa menurunkan permintaan energi global, namun tidak cukup untuk menurunkan harga secara signifikan dalam jangka pendek.
Di Indonesia, kenaikan biaya energi menggerakkan inflasi impor, terutama pada barang‑barang berbasis minyak dan gas.
Usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) merasakan tekanan biaya bahan baku yang naik, sementara daya beli konsumen menurun.
Para pelaku UMKM harus menyeimbangkan antara menaikkan harga jual dan mempertahankan volume penjualan agar margin tidak tergerus.
Fluktuasi nilai tukar rupiah terhadap dolar juga menambah beban produksi bagi perusahaan yang mengandalkan bahan baku impor.
Secara keseluruhan, meski kontribusi ekspor langsung ke Timur Tengah terbatas, dampak tidak langsung melalui harga energi dan logistik menurunkan daya saing produk Indonesia.
Pemerintah diharapkan memperkuat kebijakan diversifikasi pasar dan meningkatkan efisiensi rantai pasok domestik untuk mengurangi ketergantungan pada jalur eksternal.
Langkah-langkah tersebut dapat membantu menstabilkan neraca perdagangan dan melindungi sektor UMKM dari goncangan eksternal.
Dengan memantau perkembangan konflik dan mengoptimalkan strategi ekspor, Indonesia berupaya menjaga pertumbuhan ekonomi meski berada di tengah gejolak energi global.
Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.









Tinggalkan Balasan