Media Kampung – 22 Maret 2026 | Harga emas dunia mengalami penurunan signifikan pada Minggu, 22 Maret 2026, setelah laporan penambahan pasukan militer Amerika Serikat ke wilayah Timur Tengah.
Spot gold tercatat turun 1,8 persen menjadi USD 4.563,64 per troy ounce pada Jumat, 20 Maret, sementara kontrak berjangka berkurang 0,7 persen ke USD 4.574,90.
Penurunan harga terjadi bersamaan dengan penguatan dolar AS, yang mencatat kenaikan nilai terhadap sebagian besar mata uang utama setelah pengumuman kebijakan militer tersebut.
Menurut laporan Reuters, Washington mengirim ribuan marinir dan pelaut tambahan ke kawasan tersebut, meningkatkan ketegangan geopolitik yang memengaruhi persepsi risiko pasar global.
Kenaikan nilai dolar dan imbal hasil obligasi pemerintah AS membuat logam mulia menjadi kurang menarik karena emas diperdagangkan dalam mata uang dolar.
Tai Wong, penjual logam independen, menyatakan bahwa harga emas dan perak tertekan karena kekhawatiran suku bunga serta volatilitas pasar menjelang akhir pekan.
Sebagai aset lindung nilai, emas biasanya menguat saat ketidakpastian meningkat, namun ekspektasi kenaikan suku bunga menurunkan daya tariknya karena tidak menghasilkan pendapatan tetap.
Federal Reserve saat ini menahan suku bunga namun menegaskan inflasi tetap tinggi, memberikan sinyal kebijakan moneter yang berhati-hati dalam beberapa bulan mendatang.
Bank Sentral Eropa dan Bank of England diperkirakan akan menyesuaikan kebijakan mereka dalam waktu dekat, menambah tekanan pada pasar komoditas termasuk emas.
Konflik antara AS, Israel, dan Iran yang memanas sejak akhir Februari serta blokade Iran di Selat Hormuz dapat menjaga harga energi tetap tinggi dan memperburuk tekanan inflasi global.
Harga perak turun 4,8 persen menjadi USD 69,39 per ounce, sementara platinum dan palladium masing-masing melemah 0,9 persen dan 1,6 persen pada hari yang sama.
Kondisi pasar yang cenderung defensif menjelang akhir pekan menambah likuiditas pada aset-aset berisiko, memperkuat pergerakan turun pada logam mulia.
Analis memperkirakan emas dapat stabil di kisaran USD 4.500 per ounce jika ketegangan geopolitik tidak meningkat lebih jauh, namun volatilitas tetap tinggi.
Sejarah menunjukkan bahwa lonjakan ketegangan regional seringkali memicu kenaikan harga emas, namun faktor suku bunga kini menjadi penyeimbang utama dalam dinamika harga.
Jika konflik di Timur Tengah meluas, risiko gangguan pasokan energi dapat mendorong inflasi lebih tinggi, yang pada gilirannya dapat meningkatkan permintaan akan aset safe‑haven seperti emas.
Namun, para ekonom menekankan bahwa kebijakan moneter global, terutama keputusan Fed, akan menjadi faktor penentu utama bagi pergerakan emas dalam beberapa minggu ke depan.
Dengan dolar menguat, imbal hasil obligasi naik, dan ketidakpastian geopolitik yang belum terpecahkan, pasar emas diperkirakan akan bergerak dalam kisaran sempit sampai arah kebijakan lebih jelas.
Secara keseluruhan, penurunan 1,8 persen mencerminkan interaksi antara dinamika politik luar negeri, kebijakan moneter, dan sentimen investor yang masih berfluktuasi.
Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.









Tinggalkan Balasan