Media Kampung – 22 Maret 2026 | Pasar kripto kembali berada di sorotan setelah pertemuan Federal Open Market Committee (FOMC) memicu pergerakan harga Bitcoin (BTC) yang signifikan.

Dalam sesi perdagangan Selasa, 17 Maret 2026, Bitcoin sempat menguat mendekati USD 76.000 berkat aliran dana institusional ke spot Bitcoin ETF sebesar USD 199,37 juta.

Selama tujuh hari berturut‑turut, total arus masuk mencapai sekitar USD 1,16 miliar, menunjukkan minat kuat investor institusional meski volatilitas tetap tinggi.

Namun, pada Jumat, 21 Maret 2026, harga Bitcoin turun kembali ke kisaran USD 70.000 setelah sinyal kebijakan moneter hasil FOMC mengindikasikan sikap yang masih ketat.

Vice President Indodax, Antony Kusuma, menjelaskan koreksi tersebut mencerminkan penyesuaian pasar terhadap ekspektasi suku bunga yang tidak berubah.

Fed memutuskan untuk mempertahankan suku bunga acuan pada kisaran 3,50‑3,75 persen, sekaligus mengoreksi proyeksi inflasi 2026 menjadi 2,7 persen.

Keputusan ini menegaskan sikap hawkish The Federal Reserve, yang masih menilai inflasi belum turun sesuai harapan.

Investor menafsirkan kebijakan tersebut sebagai indikasi likuiditas terbatas untuk aset berisiko, termasuk kripto.

Di tengah penurunan, Robert Kiyosaki, tokoh finansial terkenal, memperingatkan potensi krisis keuangan global yang dapat memicu lonjakan harga Bitcoin.

Kiyosaki menyebut bahwa dalam skenario kejatuhan sistem keuangan tradisional, Bitcoin dapat melampaui USD 750.000 per koin.

Pernyataan tersebut menambah spekulasi di kalangan pedagang kripto yang mencari peluang di tengah ketidakpastian pasar.

Meskipun prediksi Kiyosaki terdengar ekstrem, ia menekankan bahwa Bitcoin berfungsi sebagai aset pelindung nilai terhadap inflasi dan kebijakan moneter ketat.

Para analis pasar mencatat bahwa pergerakan harga Bitcoin kini dipengaruhi oleh dua faktor utama: aliran dana institusional dan kebijakan moneter Amerika Serikat.

Aliran dana institusional ke produk spot Bitcoin ETF memperkuat likuiditas pasar dan menambah kepercayaan investor.

Namun, kebijakan Fed yang tetap hawkish dapat menahan arus masuk selanjutnya, terutama jika inflasi tetap tinggi.

Data perdagangan menunjukkan bahwa volume transaksi harian Bitcoin berada di atas rata‑rata historis dalam seminggu terakhir.

Hal ini mencerminkan dinamika pasar yang responsif terhadap berita kebijakan moneter dan sentimen makroekonomi.

Sementara itu, pasar global terus mengamati keputusan bank sentral lain, termasuk European Central Bank dan Bank of England, yang dapat menambah tekanan pada dolar AS.

Penguatan dolar biasanya menurunkan daya beli aset kripto, sehingga pergerakan nilai tukar menjadi faktor tambahan bagi harga Bitcoin.

Investor institusional yang menempatkan dana di spot Bitcoin ETF melakukannya sebagai diversifikasi portofolio, bukan sekadar spekulasi.

Strategi ini mencerminkan kepercayaan jangka panjang terhadap teknologi blockchain dan potensi adopsi mainstream.

Namun, volatilitas jangka pendek tetap tinggi, terutama bila data ekonomi AS menunjukkan ketahanan atau pelemahan pertumbuhan.

Para ekonom memperkirakan bahwa kebijakan moneter yang ketat dapat menurunkan permintaan kredit, yang pada gilirannya mempengaruhi aliran modal ke aset alternatif.

Dengan suku bunga tetap pada level tinggi, biaya pinjaman bagi perusahaan dan konsumen meningkat, memperlambat pertumbuhan ekonomi.

Kondisi ini dapat meningkatkan daya tarik Bitcoin sebagai aset yang tidak bergantung pada kebijakan suku bunga.

Di sisi lain, regulator di beberapa negara masih mengkaji kerangka hukum untuk aset kripto, yang dapat menambah ketidakpastian pasar.

Jika regulasi menjadi lebih ketat, aliran dana institusional dapat terhambat, menurunkan tekanan beli pada Bitcoin.

Analisis teknikal menunjukkan bahwa Bitcoin berada di zona support penting sekitar USD 70.000, dengan potensi rebound jika tekanan jual mereda.

Jika tren bullish institusional kembali, harga dapat kembali mendekati level USD 76.000 atau bahkan melampauinya.

Namun, skenario terburuk tetap berupa penurunan lebih lanjut jika inflasi tetap tinggi dan kebijakan Fed tidak melonggarkan moneter.

Secara keseluruhan, pasar Bitcoin saat ini berada pada titik persimpangan antara dukungan institusional yang kuat dan kebijakan moneter yang menahan likuiditas.

Kondisi ini menuntut pedagang untuk memperhatikan data ekonomi AS dan pernyataan otoritas moneter secara cermat.

Dengan ketidakpastian yang masih tinggi, para pelaku pasar diharapkan tetap mengedepankan manajemen risiko yang ketat.

Situasi ini menggambarkan dinamika baru bagi aset kripto, di mana faktor makroekonomi memiliki pengaruh signifikan terhadap pergerakan harga.

Pengamatan lebih lanjut diperlukan untuk menilai apakah prediksi Kiyosaki akan terwujud atau tetap menjadi skenario hipotetis.

Untuk saat ini, Bitcoin tetap menjadi instrumen yang menarik bagi investor yang mencari diversifikasi di tengah kebijakan moneter yang ketat.

Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.