Media Kampung – 20 Maret 2026 | Pasar emas spot mengalami penurunan beruntun selama tujuh sesi, menguatkan kekhawatiran investor akan volatilitas harga.
Pada 19 Maret 2026, harga emas turun 3,7% menjadi US$4.641,46 per ons menurut data Bloomberg.
Koreksi ini mencatat penurunan terpanjang sejak 2023 dan terjadi di tengah ketegangan geopolitik terkait konflik Iran.
Lonjakan harga minyak mentah dan gas akibat perang meningkatkan tekanan inflasi, sehingga kebijakan moneter diperkirakan tetap ketat.
Para analis menilai bahwa suku bunga tinggi dan prospek pemotongan kebijakan The Fed menjadi semakin kecil.
Kepala Strategi Komoditas Global TD Securities, Bart Melek, menegaskan bahwa dinamika suku bunga dan harga energi menjadi faktor utama pergerakan emas.
Ia menambahkan, “Kondisi ini memaksa investor mengalihkan dana dari logam mulia ke aset yang lebih menguntungkan dari kenaikan energi.”
Sementara itu, Aakash Doshi dari State Street Investment Management mencatat pergeseran aliran dana investor ke instrumen yang diuntungkan oleh energi.
Doshi berpendapat, “Investor kini lebih memilih likuiditas dan eksposur pada sektor energi daripada emas tradisional.”
Data pasar menunjukkan penurunan nilai saham perusahaan tambang emas serta performa negatif VanEck Gold Miners ETF.
Penurunan ini mencerminkan penjualan aset emas secara luas untuk memenuhi kebutuhan likuiditas.
Meski demikian, analis masih memperkirakan harga emas dapat mencapai US$6.250 per ons dalam satu tahun ke depan.
Proyeksi tersebut didasarkan pada pola historis kenaikan emas ketika inflasi tetap tinggi dan kebijakan moneter ketat.
Sejumlah pakar berpendapat bahwa tekanan inflasi yang berkelanjutan akan menambah permintaan emas sebagai safe haven.
Jika inflasi tidak terkendali, bank sentral mungkin terpaksa menahan suku bunga pada level tinggi lebih lama.
Kondisi ini dapat memperkuat daya tarik emas bagi investor yang menghindari volatilitas pasar saham.
Peningkatan permintaan fisik di pasar Asia, khususnya Indonesia, juga menjadi faktor pendukung harga emas.
Penjualan emas Antam mengalami penurunan, namun permintaan institusi dan dana ETF tetap signifikan.
Selain itu, kebijakan pemerintah Indonesia yang mendukung investasi logam mulia dapat menambah tekanan beli.
Pengaruh geopolitik, terutama konflik di Timur Tengah, diperkirakan akan terus memengaruhi harga komoditas energi.
Kenaikan harga minyak mentah ke level di atas US$100 per barel menambah beban biaya produksi tambang emas.
Biaya produksi yang lebih tinggi dapat mengurangi suplai emas di pasar, mendukung kenaikan harga.
Secara teknikal, grafik harga emas menunjukkan pola bullish yang belum selesai.
Indikator momentum mengisyaratkan kemungkinan terobosan ke level resistance di sekitar US$5.500.
Jika level tersebut terlampaui, pasar dapat melanjutkan kenaikan ke target US$6.250.
Namun, risiko penurunan tetap ada jika terjadi penurunan tajam pada harga energi atau pelonggaran kebijakan moneter.
Investor disarankan memantau data inflasi dan keputusan kebijakan suku bunga utama negara maju.
Keputusan The Fed mengenai suku bunga akan menjadi katalis utama bagi pergerakan emas ke depan.
Jika The Fed mempertahankan suku bunga tinggi, emas diperkirakan akan tetap kuat.
Sebaliknya, penurunan suku bunga dapat memicu penurunan kembali pada harga emas.
Secara keseluruhan, pasar emas berada di persimpangan antara tekanan inflasi, kebijakan moneter, dan dinamika geopolitik.
Analisis jangka panjang menunjukkan bahwa emas masih memiliki ruang untuk menguat hingga US$6.250 per ons dalam 12 bulan ke depan.
Investor harus tetap berhati-hati dan menyesuaikan portofolio sesuai dengan perkembangan ekonomi global.
Dengan memperhatikan indikator makroekonomi dan faktor geopolitik, keputusan investasi pada emas dapat dioptimalkan.
Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.









Tinggalkan Balasan