Media Kampung – 12 Maret 2026 | Bitcoin (BTC) kembali menjadi sorotan utama investor setelah menunjukkan tanda‑tanda pemulihan pada awal Maret 2026. Setelah beberapa minggu terjebak dalam zona penurunan, mata uang kripto terbesar dunia ini berhasil menembus level support penting di sekitar US$65.500 (sekitar Rp1,10 miliar) dan melanjutkan kenaikan secara bertahap. Momentum ini menimbulkan pertanyaan besar: ke arah mana harga Bitcoin selanjutnya?

Pergerakan Harga Terbaru

Data dari platform TradingView mengindikasikan bahwa pada tanggal 10 Maret 2026, harga Bitcoin sempat turun di bawah US$66.500, menandai titik terendah baru di US$65.646 (sekitar Rp1,10 miliar). Namun, tekanan beli yang muncul dari investor bullish berhasil memulihkan harga, mendorong BTC naik melewati level US$67.200 (Rp1,13 miliar) dan US$67.500 (Rp1,13 miliar). Saat ini, Bitcoin diperdagangkan di atas US$68.000 atau sekitar Rp1,14 miliar, sekaligus berada di atas rata‑rata pergerakan sederhana 100‑jam, menandakan potensi lanjutan tren naik.

Level Support dan Resistensi Kunci

Berikut ini rangkaian level support dan resistensi yang menjadi fokus para trader pada grafik per jam BTC/USD:

LevelUS$Rupiah (≈)
Support utama65.500Rp1,10 miliar
Support tambahan66.500Rp1,11 miliar
Resistensi pertama67.200Rp1,13 miliar
Resistensi kedua67.500Rp1,13 miliar
Resistensi kritis69.250Rp1,16 miliar
Resistensi penting berikutnya69.600Rp1,17 miliar

Jika harga berhasil menahan di atas US$67.500, potensi untuk menembus zona US$69.250–69.600 menjadi semakin kuat. Pada level tersebut, selain menandai titik Fibonacci 50 % dari penurunan sebelumnya (dari puncak US$74.062 ke US$65.646), juga bertepatan dengan area psikologis US$70.000 yang menjadi garis pertaruhan utama bagi trader bearish.

Proyeksi Analis untuk Kuartal Berikutnya

Berbagai analis pasar kripto memberikan pandangan yang beragam namun sebagian besar sepakat bahwa tren bullish dapat berlanjut jika dua kondisi utama terpenuhi:

  • Penguatan volume beli di atas US$68.000, yang akan menegaskan keberhasilan penembusan resistensi pertama.
  • Stabilitas makroekonomi global, terutama terkait kebijakan moneter AS dan perkembangan geopolitik di Timur Tengah yang masih menjadi faktor pengganggu volatilitas.

Menurut salah satu analis senior di platform crypto‑research, bila Bitcoin menutup kuartal kedua 2026 di atas US$70.000, target jangka menengah dapat mengarah ke kisaran US$75.000–US$80.000 (sekitar Rp1,26 miliar–Rp1,34 miliar). Sebaliknya, jika tekanan penurunan kembali menguat di area US$68.000, kemungkinan terjadinya pull‑back ke level support US$66.500 tidak dapat diabaikan.

Selain faktor teknikal, aliran berita terkait adopsi institusional dan regulasi di Indonesia juga berperan. Pemerintah telah menunjukkan komitmen untuk memperkuat ekosistem fintech, sementara beberapa bank besar mulai mengeksplorasi layanan kripto berbasis blockchain. Dukungan kebijakan ini diharapkan dapat menambah likuiditas dan menarik aliran modal baru ke pasar Bitcoin.

Secara keseluruhan, indikator teknikal, level Fibonacci, serta sentimen pasar mengindikasikan bahwa Bitcoin berada pada posisi strategis untuk melanjutkan rally menuju target Rp1,2 miliar dalam beberapa minggu ke depan. Namun, investor tetap disarankan untuk memantau perkembangan indikator volume, berita geopolitik, dan kebijakan moneter global demi mengelola risiko secara optimal.