Jakarta – IHSG menguat rupiah perkasa mewarnai penutupan pasar keuangan Indonesia pada Rabu (11/02/2026). Indeks Harga Saham Gabungan melonjak 159 poin atau 1,96% ke level 8.290,97, sementara nilai tukar rupiah ditutup menguat di Rp16.775 per dolar Amerika Serikat (AS).

Penguatan indeks ditopang mayoritas saham yang berada di zona hijau. Sebanyak 544 saham naik, 156 melemah, dan 122 stagnan. Nilai transaksi tergolong tinggi mencapai Rp29,80 triliun dengan volume 62,06 miliar saham dalam 3,40 juta kali transaksi. Kapitalisasi pasar meningkat menjadi Rp15.094 triliun.

Saham PT Bumi Resources Tbk (BUMI) mencatat nilai transaksi terbesar, yakni Rp8,24 triliun dan ditutup melonjak 10% ke Rp272 per saham. Sejumlah saham lain yang aktif diperdagangkan antara lain PT Petrosea Tbk (PTRO), PT Bank Central Asia Tbk (BBCA), PT Bank Mandiri Tbk (BMRI), dan PT Bukit Uluwatu Villa Tbk (BUVA).

Secara sektoral, hampir seluruh indeks sektoral menguat. Infrastruktur memimpin kenaikan 4,37%, diikuti energi 3,85%, barang baku 3,81%, serta konsumer non-primer 3,79%. Saham-saham konglomerasi turut menjadi motor penggerak, terutama emiten yang terafiliasi dengan Prajogo Pangestu seperti Barito Pacific (BRPT), Petrindo Jaya Kreasi (CUAN), dan Barito Renewables Energy (BREN) yang memberi kontribusi signifikan terhadap indeks.

Di pasar valuta asing, rupiah melanjutkan tren positif tiga hari beruntun dengan apresiasi 0,09%. Sepanjang perdagangan, mata uang Garuda sempat dibuka di Rp16.750 per dolar AS, melemah tipis hingga Rp16.788, sebelum kembali menguat saat penutupan. Penguatan rupiah sejalan dengan pelemahan indeks dolar AS (DXY) yang turun 0,18% ke level 96,629 pada pukul 15.00 WIB.

Tekanan terhadap dolar AS muncul setelah data ekonomi Negeri Paman Sam menunjukkan sinyal beragam. Laporan ketenagakerjaan Januari mencatat penambahan 130.000 pekerjaan, melampaui ekspektasi pasar, dengan tingkat pengangguran turun ke 4,3%. Namun, data penjualan ritel dan pertumbuhan biaya tenaga kerja yang melambat menimbulkan spekulasi bahwa Federal Reserve berpeluang melonggarkan kebijakan moneternya hingga sekitar 60 basis poin sampai akhir 2026.

Sementara itu, imbal hasil Surat Berharga Negara (SBN) tenor 10 tahun tercatat stabil di level 6,436%, mencerminkan sikap wait and see pelaku pasar.

Dari eksternal, Wall Street justru ditutup melemah. Indeks Dow Jones terkoreksi tipis 0,13%, S&P 500 nyaris stagnan, dan Nasdaq turun 0,16%. Pergerakan pasar AS sempat menguat setelah rilis data tenaga kerja, namun mereda seiring turunnya ekspektasi pemangkasan suku bunga dalam waktu dekat.

Di sisi lain, bursa domestik juga dipengaruhi sentimen pembenahan transparansi pasar menyusul komunikasi lanjutan antara Bursa Efek Indonesia dan MSCI terkait isu keterbukaan data kepemilikan saham. Pemerintah pun merespons penurunan outlook utang Indonesia oleh Moody’s dengan menyiapkan forum klarifikasi kepada lembaga pemeringkat global.

Dari kawasan Asia, inflasi konsumen China Januari 2026 melambat menjadi 0,2% secara tahunan, sementara indeks harga produsen masih terkontraksi 1,4% dan menandai deflasi selama 40 bulan berturut-turut. Data tersebut mencerminkan lemahnya permintaan domestik China yang berpotensi memengaruhi stabilitas perdagangan regional.

Pelaku pasar kini mencermati sejumlah agenda ekonomi hari ini, termasuk rilis data PPI Jepang, pertumbuhan PDB Inggris kuartal IV-2025, serta penjualan perumahan AS Januari 2026. Di dalam negeri, perhatian tertuju pada agenda RUPS sejumlah emiten dan dinamika lanjutan komunikasi dengan investor global.

Dengan kombinasi sentimen domestik dan global, pasar keuangan Indonesia diharapkan mampu mempertahankan momentum penguatan dalam jangka pendek, meski volatilitas eksternal tetap perlu diantisipasi. (balqis)