Nilai tukar rupiah terhadap dollar AS menguat pada awal perdagangan Rabu (11/2/2026). Berdasarkan data Bloomberg, rupiah dibuka di level Rp 16.770 per dollar AS, naik 41 poin atau 0,24 persen dibandingkan penutupan sebelumnya di Rp 16.811 per dollar AS.
Penguatan rupiah terjadi di tengah tekanan yang masih membayangi mata uang Amerika Serikat. Analis mata uang Doo Financial Futures Lukman Leong menilai pelemahan dollar AS dipicu oleh rilis data penjualan ritel Amerika Serikat yang lebih rendah dari ekspektasi pasar.
Meski demikian, ruang penguatan rupiah diperkirakan tidak terlalu besar. Menurut Lukman, dollar AS masih mendapat sentimen positif dari pernyataan bernada hawkish sejumlah pejabat bank sentral AS (The Fed) yang disampaikan sebelumnya.
Di sisi lain, pelaku pasar cenderung bersikap hati-hati menjelang rilis data ketenagakerjaan Amerika Serikat, khususnya Non-Farm Payrolls (NFP), yang akan diumumkan malam ini. Dalam kondisi tersebut, rupiah diproyeksikan bergerak dalam rentang Rp 16.750 hingga Rp 16.850 per dollar AS, dengan potensi penguatan yang relatif terbatas.
Sementara itu, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) juga dibuka di zona hijau pada perdagangan hari ini. IHSG menguat 37,622 poin atau 0,46 persen ke level 8.169,361.
Data Bursa Efek Indonesia menunjukkan indeks sempat dibuka di posisi 8.152,785 dan bergerak hingga menyentuh level tertinggi harian di 8.176,740. Adapun level terendah tercatat di 8.148,247.
Volume transaksi mencapai 2,790 miliar saham dengan nilai transaksi sebesar Rp 1,517 triliun. Frekuensi perdagangan tercatat sebanyak 213.367 kali transaksi.
Secara sektoral, pergerakan saham didominasi penguatan dengan 380 saham naik, 158 saham melemah, dan 161 saham stagnan. Kapitalisasi pasar Bursa Efek Indonesia tercatat sebesar Rp 14.876,169 triliun.(SY)













Tinggalkan Balasan