Kisah pengusaha servis AC Surabaya bernama Handoko menjadi potret perjuangan anak muda yang membangun usaha dari keterbatasan. Lulusan SMP itu kini mampu mengelola bisnis servis dan perawatan air conditioner dengan delapan orang pekerja yang beroperasi di Surabaya hingga Sidoarjo.
Setiap pagi, Handoko memulai aktivitasnya dari rumah petak di Jalan Ploso Timur, Kecamatan Tambaksari, Surabaya. Di depan rumah sederhana itu, ia mengumpulkan para pekerjanya untuk membagi tugas. Sejumlah lokasi pelanggan ditentukan sebelum mereka berangkat membawa peralatan servis dengan seragam bertuliskan Rizky Teknik.
Setelah melepas para pekerja, Handoko melanjutkan aktivitasnya sendiri dengan mendatangi pelanggan lain, termasuk pemilik pabrik yang membutuhkan perbaikan AC. Ia mengaku tidak pernah membayangkan usahanya bisa berkembang hingga memiliki rekan kerja yang kini menjadi sumber penghidupan bersama.
Handoko merupakan anak kedua dari tiga bersaudara. Ia hanya menamatkan pendidikan hingga SMP dan sempat mengenyam bangku SMA sebelum berhenti pada 2013. Untuk membantu ekonomi keluarga, ia pernah bekerja membantu ibunya yang berprofesi sebagai petugas pengangkut sampah di kawasan perumahan, sementara ayahnya bekerja sebagai tukang becak.
Pengalaman kerja Handoko berlanjut ketika ia mengikuti saudaranya berjualan bakso di sekitar kampus di Malang. Setelah itu, ia kembali ke Surabaya dan bekerja cukup lama di usaha servis AC milik orang lain. Dari pekerjaan tersebut, Handoko belajar teknis perawatan sekaligus memahami kebutuhan pelanggan.
Keberanian membuka usaha sendiri muncul pada 2018. Bersama dua rekannya, Handoko memulai bisnis servis AC dengan peran yang terbagi, mulai dari teknisi hingga pencari pelanggan. Pada masa awal, usaha tersebut sempat sepi pesanan dan menguji ketahanan mental mereka.
Perlahan, usaha tersebut berkembang. Dalam kurun satu tahun, jumlah pelanggan meningkat tajam hingga Handoko mampu merekrut sekitar 10 pekerja. Namun, kondisi berubah drastis saat pandemi Covid-19 melanda. Pesanan dari kampus dan perkantoran hilang, membuat Handoko terpaksa merumahkan para pegawainya.
Meski sempat terpuruk, Handoko memilih bertahan. Ia kembali merintis usahanya secara perlahan setelah pandemi mereda. Saat ini, meski jumlah pesanan belum sebanyak sebelum pandemi, bisnisnya kembali berjalan dan mampu menghidupi dirinya serta para pekerja. Handoko bahkan berencana menyewa kantor untuk mengembangkan usahanya ke depan.
















Tinggalkan Balasan