Jakarta โ€“ Badan Gizi Nasional (BGN) memproyeksikan program Makan Bergizi Gratis (MBG) pada 2026 membutuhkan tambahan sedikitnya 1.500 peternak ayam petelur baru. Langkah ini dinilai krusial untuk menjaga ketersediaan telur seiring meningkatnya jumlah penerima manfaat program tersebut.

Kepala BGN Dadan Hindayana menyampaikan bahwa kebutuhan tersebut setara dengan penambahan sekitar 6 juta ekor ayam petelur secara nasional. Penambahan ini diperlukan agar distribusi telur dalam menu MBG dapat dilakukan secara konsisten, termasuk target pemberian telur dua kali dalam sepekan.

Menurut Dadan, lonjakan kebutuhan pasokan pangan tidak terlepas dari jumlah penerima manfaat MBG yang kini telah mencapai 55,1 juta orang. Dengan cakupan sebesar itu, rantai pasok bahan pangan menjadi sangat besar dan berdampak langsung pada sektor pertanian, peternakan, hingga perikanan.

Ia menjelaskan, setiap Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) atau dapur MBG membutuhkan pasokan bahan baku dalam jumlah signifikan setiap kali memasak. Dalam satu kali proses produksi, satu dapur MBG rata-rata memerlukan sekitar 3.000 butir telur, 350 ekor ayam, 350 kilogram sayuran, serta 450 liter susu.

Selain itu, kebutuhan beras per SPPG mencapai sekitar 5 ton per bulan, sementara kebutuhan buah pisang setara dengan hasil kebun seluas 1,5 hektare per tahun. Besarnya kebutuhan ini, kata Dadan, menciptakan efek berantai terhadap perekonomian daerah.

Saat ini, diperkirakan antara 700 ribu hingga 890 ribu tenaga kerja telah terlibat langsung di dapur-dapur MBG di seluruh Indonesia. Di luar itu, setiap SPPG juga bekerja sama dengan sedikitnya 15 pemasok bahan pangan, mulai dari beras, minyak, telur, daging, ayam, susu, hingga bumbu dapur, yang masing-masing menyerap dua hingga 15 tenaga kerja.

Dadan menilai, skema ini membuat hasil produksi petani, peternak, dan nelayan terserap secara langsung oleh program MBG. Dampaknya, gairah peningkatan produktivitas di berbagai wilayah mulai terlihat.

Dari sisi anggaran, distribusi MBG yang berjalan secara nasional sejak Januari membutuhkan dana sekitar Rp855 miliar per hari. Angka tersebut diperkirakan meningkat menjadi sekitar Rp1,2 triliun per hari pada Mei 2025 seiring bertambahnya jumlah penerima manfaat.

Sekitar 70 persen anggaran MBG digunakan untuk pembelian bahan baku pangan. Dari jumlah itu, 95 hingga 99 persen berasal dari produk pertanian dalam negeri. Menurut Dadan, skema ini membuat aliran dana BGN langsung mengalir ke daerah-daerah di 38 provinsi serta 514 kabupaten dan kota.

Ia mencontohkan, ketika menu MBG menggunakan daging sapi, kebutuhan bisa mencapai sekitar 19 ribu ekor sapi dalam satu kali masak secara nasional. Kondisi ini dinilai memberikan dorongan ekonomi yang sangat besar bagi sektor pertanian dan peternakan di Indonesia. (balqis)