JAKARTA โ€“ Target IPO BEI 2026 dipatok sebanyak 50 saham baru, dengan enam di antaranya berasal dari emiten berkapitalisasi besar atau lighthouse. Target tersebut ditetapkan Bursa Efek Indonesia (BEI) seiring proyeksi pemulihan ekonomi dan dinamika pasar global pada tahun mendatang.

Direktur Bursa Efek Indonesia Iman Rachman menyampaikan bahwa penetapan target tersebut didasarkan pada sejumlah asumsi makroekonomi. Salah satunya, rata-rata nilai transaksi harian pasar saham yang diproyeksikan mencapai Rp15 triliun sepanjang 2026. Dari sisi pencatatan efek, BEI menargetkan total 505 efek tercatat.

Iman menjelaskan bahwa selain mendorong 50 perusahaan melantai melalui penawaran umum perdana saham, BEI juga menyiapkan berbagai kanal distribusi informasi untuk memperluas basis investor. Pada 2026, jumlah investor baru ditargetkan bertambah sekitar dua juta.

Terkait karakteristik emiten yang akan melantai, Iman mengungkapkan bahwa enam perusahaan yang masuk kategori lighthouse berasal dari kelompok usaha besar atau konglomerasi. Namun, hingga kini belum ada pembahasan lebih lanjut mengenai kemungkinan keterlibatan badan usaha milik negara dalam agenda IPO tahun depan.

Sebelumnya, BEI mencatat target IPO pada 2025 tidak sepenuhnya tercapai. Dari target 45 emiten, hanya 26 perusahaan yang resmi mencatatkan sahamnya di bursa. Meski demikian, nilai penghimpunan dana justru menunjukkan peningkatan signifikan.

Iman menyebutkan bahwa total dana yang berhasil dihimpun melalui IPO sepanjang 2025 mencapai Rp18 triliun, lebih tinggi dibandingkan capaian tahun sebelumnya. Jumlah emiten lighthouse yang tercatat juga meningkat dari target lima perusahaan menjadi enam emiten.

Secara keseluruhan, hingga akhir 2025 jumlah perusahaan tercatat di Bursa Efek Indonesia mencapai 956 emiten. Total fund raising sepanjang tahun tersebut hampir menyentuh Rp300 triliun, atau tepatnya sekitar Rp278 triliun. Kondisi ini menunjukkan bahwa meski jumlah IPO belum sesuai target, minat penghimpunan dana di pasar modal tetap terjaga. (balqis).