Media Kampung – 28 Maret 2026 | Warga Dusun Kepuh Bener, Desa Kedungrejo, Tanjunganom, Nganjuk menggelar perayaan Kupatan pada Sabtu 28 Maret, menandai akhir puasa Syawal dengan kirab gunungan ketupat. Acara ini menarik ratusan peserta yang mengenakan pakaian adat Jawa.
Kupatan merupakan tradisi Jawa yang menandai selesainya rangkaian ibadah Lebaran kedelapan, di mana masyarakat mengumpulkan ketupat, sayur, dan lauk untuk disusun menjadi gunungan simbolik. Panitia menyiapkan tiga gunungan yang kemudian dipikul dan diarak mengelilingi dusun.
Sebelum prosesi, warga berkumpul di musala dusun untuk menyerahkan hasil masakan kepada panitia, memastikan setiap gunungan terisi dengan porsi yang memadai. Kegiatan ini memperkuat rasa kebersamaan dan gotong‑royong antar keluarga.
Pada saat kirab dimulai, tiga gunungan ketupat dibawa oleh relawan, sementara warga menyemarakkan jalanan dengan sorak dan tepuk tangan. Antusiasme terlihat jelas saat gunungan berbelok melewati rumah‑rumah, menandakan penyebaran berkah.
Sesudah kirab selesai, warga bersaing merebut ketupat yang terbuka, sebuah ritual yang disebut “berebut”. Rumdiyah, salah satu peserta, berhasil mendapatkan lima ketupat dan berharap keberkahan bagi keluarganya.
Rumdiyah mengaku ini kali kedua ia ikut dalam kirab, dan menyatakan bahwa ketupat yang dibawa pulang menjadi simbol harapan rezeki. Sebagian peserta langsung mengonsumsi ketupat di lokasi, sementara yang lain membawa pulang untuk berbagi di rumah.
Setelah proses berebut, ketupat yang belum diambil diserahkan kepada pengurus Masjid Al‑Huda setempat, di mana doa bersama dilaksanakan. Doa tersebut memohon keselamatan, kesehatan, dan limpahan rejeki bagi seluruh warga dusun.
Zuhal Ahmadi, tokoh masyarakat setempat, menjelaskan bahwa tradisi Kupatan mengadopsi nilai‑nilai keagamaan Islam yang telah lama dianut. Ia menekankan bahwa kirab bukan sekadar pertunjukan, melainkan sarana mempererat silaturahmi.
Kupatan di Kepuh Bener telah dilaksanakan secara rutin setiap tahun, menjadikan tradisi tersebut bagian penting dalam identitas budaya desa. Keberlanjutan acara menunjukkan keberhasilan upaya pelestarian budaya Jawa di era modern.
Pemerintah desa memberikan dukungan logistik berupa perlengkapan ibadah dan transportasi bagi panitia, memastikan acara berjalan lancar tanpa hambatan. Bantuan ini mencerminkan sinergi antara aparat desa dan masyarakat.
Masyarakat setempat melaporkan peningkatan partisipasi dibandingkan tahun sebelumnya, menandakan antusiasme yang terus tumbuh. Faktor utama adalah rasa kebersamaan yang tercipta selama persiapan dan pelaksanaan.
Selain aspek religius, acara Kupatan turut memberikan dampak ekonomi kecil, karena penjualan ketupat dan lauk meningkatkan pendapatan pedagang lokal. Penjualan ini juga memperkuat jaringan ekonomi mikro di wilayah.
Pada akhir acara, panitia mengumumkan jadwal persiapan untuk Kupatan tahun berikutnya, mengajak semua warga untuk terlibat sejak awal. Rencana tersebut mencakup pelatihan memasak ketupat bagi pemula.
Pengamat kebudayaan menilai bahwa tradisi Kupatan dapat menjadi contoh bagi desa‑desa lain dalam menjaga warisan budaya sekaligus memperkuat ikatan sosial. Integrasi nilai agama dan budaya lokal menjadi kekuatan utama.
Dengan berakhirnya prosesi, warga kembali ke aktivitas sehari‑hari dengan semangat baru, mengingat pesan kebersamaan yang disampaikan melalui kirab. Harapan utama mereka adalah kelangsungan tradisi yang memberi manfaat spiritual dan sosial.
Secara keseluruhan, perayaan Kupatan di Dusun Kepuh Bener menegaskan pentingnya tradisi dalam mempererat komunitas, sekaligus menambah nilai kebudayaan Jawa di tingkat regional. Keberhasilan acara ini menandai keberkahan yang dirasakan seluruh penduduk.
Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.









Tinggalkan Balasan