Media Kampung – 25 Maret 2026 | Perhutani KPH Balapulang hadir dalam upacara adat Ngasa yang dilaksanakan di Kampung Budaya Jalawastu, Desa Ciseureuh, Kecamatan Ketanggungan, Kabupaten Brebes pada Selasa (24/03/2026). Kehadiran ini menandai dukungan perusahaan terhadap pelestarian tradisi lokal.
Upacara Ngasa merupakan ritual tahunan yang menggabungkan sedekah gunung dan sedekah hasil bumi sebagai bentuk rasa syukur kepada Tuhan atas kelimpahan alam. Tradisi ini mencerminkan hubungan timbal balik antara masyarakat dengan hutan di sekitarnya.
Perwakilan Perhutani dalam acara tersebut adalah Asper BKPH Banjarharjo Barat dan Asper BKPH Banjarharjo Timur, yang masing‑masing bertugas mengelola wilayah hutan di sekitar kampung. Kedua pejabat tersebut berkoordinasi dengan tokoh adat setempat selama rangkaian kegiatan.
Dalam sambutan singkat, Asper BKPH Banjarharjo Timur, Purwo Karyo Utomo, menegaskan komitmen Perhutani untuk terus mendukung upaya pelestarian budaya serta program lingkungan yang bersinergi dengan masyarakat desa hutan. Ia menambahkan bahwa kolaborasi ini penting untuk menjaga keseimbangan ekosistem.
Bupati Brebes, Paramitha Widya Kusuma, juga hadir dan menyampaikan pesan agar tradisi Ngasa tetap dipertahankan sebagai warisan leluhur. Ia menekankan pentingnya melindungi identitas budaya di tengah arus modernisasi yang cepat.
Kegiatan dimulai dengan prosesi penyambutan, di mana para peserta mengadakan doa bersama dan mempersiapkan persembahan untuk gunung. Selanjutnya dilanjutkan dengan tarian tradisional, nyanyian, serta pembacaan doa yang melibatkan seluruh warga desa.
Sebagian besar persembahan berupa hasil pertanian, hasil hutan, serta hasil kerajinan tangan yang dibawa ke altar simbolik. Penyerahan ini dianggap sebagai bentuk rasa terima kasih kepada alam dan sebagai permohonan agar sumber daya tetap melimpah.
Perhutani memanfaatkan kesempatan tersebut untuk menyampaikan program edukasi tentang pengelolaan hutan berkelanjutan kepada masyarakat. Tim lapangan memberikan materi singkat mengenai reboisasi, pencegahan kebakaran, dan pemanfaatan kayu secara legal.
Reaksi warga menunjukkan apresiasi atas partisipasi Perhutani, karena mereka melihat perusahaan sebagai mitra strategis dalam menjaga hutan sekaligus mendukung kegiatan kebudayaan. Beberapa tokoh adat menyatakan harapan agar kolaborasi ini berlanjut pada event budaya selanjutnya.
Upacara Ngasa juga berfungsi sebagai platform dialog antara pejabat daerah, perwakilan Perhutani, dan warga. Diskusi singkat membahas rencana konservasi lahan, potensi ekowisata, serta pemberdayaan ekonomi berbasis sumber daya alam.
Bupati menyoroti rencana pengembangan jalur wisata edukatif yang menghubungkan situs budaya dengan kawasan hutan lindung. Ia berharap proyek tersebut dapat meningkatkan kunjungan wisatawan sekaligus memberi manfaat ekonomi bagi masyarakat lokal.
Perhutani menegaskan bahwa dukungan terhadap budaya tidak terlepas dari tanggung jawab perusahaan dalam menjaga kelestarian hutan. Kebijakan internal perusahaan menekankan sinergi antara konservasi dan kesejahteraan sosial.
Selama acara, foto dokumentasi diambil sebagai arsip resmi yang akan dipublikasikan dalam laporan tahunan Perhutani. Dokumentasi ini diharapkan menjadi bukti nyata kolaborasi lintas sektor di wilayah Brebes.
Upacara berakhir dengan prosesi kembali ke desa, di mana peserta mengucapkan terima kasih kepada para pemimpin adat dan perwakilan Perhutani. Suasana hangat menandai keberhasilan acara dalam memperkuat ikatan budaya dan lingkungan.
Kegiatan ini mencerminkan strategi Perhutani untuk mengintegrasikan aspek sosial dalam pengelolaan hutan, sejalan dengan agenda nasional tentang pembangunan berkelanjutan. Pendekatan ini diharapkan dapat dijadikan contoh bagi wilayah lain.
Dengan dukungan berkelanjutan dari pemerintah daerah dan perusahaan, diharapkan tradisi Ngasa dapat terus dilestarikan dan hutan di sekitar Jalawastu tetap terjaga demi generasi mendatang.
Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.









Tinggalkan Balasan