Media Kampung – 25 Maret 2026 | Bupati Banyuwangi, Ipuk Fiestiandani, menegaskan pentingnya simbol daerah dalam memperkuat identitas budaya saat logo resmi Kabupaten Banyuwangi dipamerkan pada acara ritual Seblang Olehsari. Penempatan logo pada spanduk, pakaian penari, dan media promosi menandai sinergi antara warisan leluhur dan kebijakan pemerintahan.
Ritual tarian Seblang Olehsari digelar di Desa Olehsari, Kecamatan Glagah, mulai Senin 23 Maret hingga Minggu 29 maret 2026. Selama seminggu, masyarakat melakukan prosesi tolak bala dan bersih desa untuk mengusir bahaya serta memohon keselamatan.
Acara tersebut menjadi tradisi tahunan yang dilaksanakan setiap awal Bulan Syawal, menandai siklus kalender Islam sekaligus menegaskan nilai-nilai spiritual lokal. Para penari mengenakan kostum tradisional berwarna cerah yang kini dilengkapi dengan bordir logo Kabupaten banyuwangi sebagai simbol kebanggaan daerah.
Menurut Bupati Ipuk, logo tersebut tidak hanya sekadar identitas visual, melainkan juga representasi komitmen pemerintah dalam melestarikan adat. “Kami bertekad menjadikan logo sebagai jembatan antara generasi muda dan warisan budaya,” ujarnya.
Desa Olehsari menjadi panggung utama bagi upaya pelestarian budaya, dengan lebih dari seratus warga berpartisipasi dalam tarian, musik, dan upacara adat. Penonton yang hadir, termasuk tokoh daerah dan wisatawan, menyaksikan pertunjukan selama tiga jam tiap hari.
Penggunaan logo pada sarana publik, seperti papan informasi dan kendaraan dinas, memperluas jangkauan pesan kebudayaan. Pemerintah kabupaten menargetkan agar simbol tersebut dikenal di seluruh provinsi dan menarik minat wisata budaya.
Para penari menjelaskan makna gerakan Seblang Olehsari yang melambangkan pergantian musim dan harapan akan kesejahteraan. Gerakan kaki yang ritmis dan gerakan tangan yang terkoordinasi mencerminkan keteraturan yang diharapkan dari alam.
Selain tarian, kegiatan bersih desa melibatkan pemuda membersihkan jalan, selokan, dan area publik. Upaya ini menegaskan nilai gotong‑royong yang telah menjadi bagian tak terpisahkan dari budaya Banyuwangi.
Sejumlah lembaga pendidikan setempat mengirimkan siswa untuk belajar tentang makna logo dan ritual. Guru-guru menilai bahwa pengalaman langsung memperdalam pemahaman tentang identitas daerah.
Pengunjung luar daerah melaporkan kepuasan atas pengalaman budaya yang otentik dan terorganisir dengan baik. Mereka menyebut bahwa keberadaan logo memberikan rasa kebersamaan dan kepercayaan terhadap kualitas acara.
Media lokal melaporkan bahwa acara ini berhasil meningkatkan kunjungan wisatawan hingga 15% dibandingkan tahun sebelumnya. Peningkatan tersebut berdampak positif pada ekonomi mikro, khususnya pedagang makanan tradisional.
Warga setempat menilai bahwa logo Kabupaten Banyuwangi menjadi pengingat akan sejarah panjang wilayah, mulai dari kerajaan kuno hingga era modern. “Setiap kali melihat logo, kami teringat pada para leluhur yang menjaga tanah ini,” kata seorang warga senior.
Penggunaan logo dalam konteks ritual juga memperkuat pesan bahwa budaya tidak statis, melainkan dapat beradaptasi dengan simbol modern. Hal ini sejalan dengan kebijakan daerah untuk mengintegrasikan teknologi dalam pelestarian seni tradisional.
Pihak penyelenggara menyediakan materi edukasi berupa pamflet dan video yang menjelaskan arti warna dan bentuk logo. Informasi tersebut disebarkan melalui media sosial serta papan informasi di lokasi acara.
Beberapa ahli kebudayaan menilai bahwa integrasi simbol resmi dalam acara adat dapat meningkatkan rasa kebangsaan tanpa mengurangi keaslian tradisi. Mereka menekankan pentingnya keseimbangan antara inovasi dan pelestarian.
Selama acara, tim keamanan daerah memastikan ketertiban serta melindungi artefak budaya yang dipamerkan. Kehadiran aparat memberi rasa aman bagi peserta dan pengunjung.
Acara berakhir pada Minggu 29 Maret dengan upacara penutup yang menampilkan kembang api berwarna biru, sesuai dengan warna utama logo Kabupaten Banyuwangi. Kembang api tersebut melambangkan harapan akan masa depan yang cerah.
Penutupan acara diikuti dengan pernyataan resmi dari Bupati yang menegaskan komitmen lanjutan dalam melestarikan tradisi dan memperkuat identitas visual daerah. Ia menambahkan bahwa logo akan terus menjadi simbol persatuan dalam setiap program kebudayaan.
Dengan keberhasilan ritual ini, Kabupaten Banyuwangi berharap dapat menjadikan logo sebagai alat edukasi budaya yang berkelanjutan. Upaya tersebut diharapkan dapat menumbuhkan rasa kebanggaan dan keterlibatan aktif masyarakat dalam pelestarian warisan leluhur.
Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.









Tinggalkan Balasan