MediaKampung.com, Banyuwangi – Suasana malam di Dusun Cawang, Desa Benelan Kidul, Kecamatan Singojuruh, Banyuwangi berubah meriah saat warga memperingati tradisi Pitu Likuran pada bulan Ramadan.
Sejak sekitar pukul 19.00 WIB, masyarakat memadati area kampung untuk mengikuti berbagai kegiatan budaya seperti pencak obor, kesenian kuntulan khas banyuwangi, hingga permainan meriam bambu.
Tradisi tersebut menjadi salah satu agenda tahunan warga yang digelar menjelang penghujung Ramadan.

Salah satu tokoh masyarakat setempat, Dani, mengatakan Pitu Likuran selalu dinantikan warga karena menghadirkan kebersamaan di tengah masyarakat.
“Setiap RT ikut berpartisipasi menampilkan tradisi masing-masing. Ini menjadi momen kebersamaan warga sekaligus cara menjaga budaya Banyuwangi agar tetap hidup,” ujarnya.
Kepala Dusun Cawang Slamet menambahkan kegiatan ini juga mempererat hubungan sosial antarwarga.
“Warga sangat antusias. Selain menjaga tradisi, kegiatan ini membuat masyarakat lebih kompak dan saling mengenal satu sama lain,” katanya.
Dalam perayaan tersebut, setiap RT menampilkan berbagai kegiatan budaya yang menjadi ciri khas masyarakat Banyuwangi.
Atraksi pencak obor menjadi salah satu pertunjukan yang paling menarik perhatian, diikuti kesenian kuntulan yang dimainkan secara berkelompok oleh warga setempat.
Sementara suara meriam bambu yang bergema di beberapa sudut kampung menambah suasana malam Ramadan semakin semarak.
Bagi masyarakat Dusun Cawang, tradisi Pitu Likuran tidak hanya menjadi hiburan, tetapi juga sarana memperkenalkan budaya lokal kepada generasi muda.

Anak-anak hingga orang dewasa ikut terlibat dalam berbagai kegiatan yang digelar warga.
Di Banyuwangi, tradisi Pitu Likuran dikenal sebagai perayaan malam ke-27 Ramadan yang dirayakan dengan berbagai kegiatan budaya dan kebersamaan warga.
Tradisi ini menjadi salah satu bentuk pelestarian budaya lokal sekaligus memperkuat solidaritas sosial di tengah masyarakat.
Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.








