Perjalanan artistik Redy Rahadian kembali menjadi sorotan setelah memasuki dua setengah dekade berkarya. Di mata banyak pengamat seni rupa, Redy adalah figur yang berhasil memadukan ketekunan teknik, eksplorasi medium logam, dan pemikiran reflektif tentang manusia modern. Identitas visualnya terbentuk dari gagasan sosial, spiritualitas personal, hingga evolusi bahasa rupa yang terus berkembang sepanjang 25 tahun perjalanan kreatifnya.

Perkembangan tersebut dapat dilihat dari jejak pameran retrospektif yang berlangsung sejak 2022 hingga 2025. Publik dapat mengikuti bagaimana karya Redy bergerak dari figur tunggal menuju struktur kolektif manusia baja, lalu merambah pendekatan multidisiplin yang semakin kompleks. Ia kerap menegaskan bahwa berkarya berarti meninggalkan sesuatu yang mampu bertahan lebih lama dari dirinya sendiri—sebuah prinsip yang menjadi fondasi perjalanan panjangnya.

Puncak dari refleksi kreatif itu hadir lewat Dragon Series (2025), proyek terbaru yang mengangkat simbol naga sebagai representasi energi dan transformasi hidup. Dalam pernyataan tertulis yang diterima Showbiz Liputan6.com pada Jumat (28/11/2025), Redy menjelaskan bahwa Dragon Series bukan sekadar simbol visual, melainkan wujud kedewasaan artistik setelah seperempat abad menekuni seni patung. Baginya, naga dalam budaya Asia memuat makna penjaga, pelindung, serta siklus kebangkitan yang terus berulang.

Gagasannya mengenai seni patung juga berkembang bersamaan dengan keterlibatannya di komunitas seni. Redy aktif membangun kolaborasi lintas medium, terlibat dalam pameran nasional, dan bekerja bersama seniman muda. Ia memandang aktivitas itu sebagai tanggung jawab untuk menjaga supaya seni patung tidak berhenti bergerak, melainkan terus berevolusi dan berdialog dengan perubahan zaman.

Konsistensinya dalam membangun identitas visual, mengembangkan teknik logam, dan berkontribusi pada ekosistem seni membuat Redy Rahadian disebut sebagai salah satu figur yang membuka babak baru seni patung Indonesia. Ia menyebut bahwa perayaan 25 tahun berkarya bukanlah akhir, melainkan pijakan bagi masa depan yang lebih luas dan lebih matang, termasuk dialog yang menjangkau generasi berikutnya.

Dedikasinya memperlihatkan bahwa seni patung bukan hanya bentuk visual, tetapi juga warisan gagasan yang dapat terus berbicara lintas waktu—sebuah jejak pemikiran yang tetap hidup meski zaman berubah. (balqis)

saluran-whatsapp-mediakampung