Budaya Jamu yang Mulai Terpinggirkan
Di tengah derasnya arus modernisasi, kebiasaan minum jamu yang dulu melekat kuat dalam kehidupan masyarakat Indonesia perlahan memudar. Generasi muda kini lebih akrab dengan minuman instan, kopi kekinian, hingga suplemen modern yang dianggap lebih praktis. Padahal, jamu telah menjadi bagian dari kearifan lokal yang berakar ratusan tahun lalu.
Namun ada sosok-sosok yang terus menjaga api tradisi itu tetap menyala. Salah satunya adalah Sulinem, penjual jamu keliling yang setia melayani pelanggan dari rumah ke rumah setiap sore. Dengan langkah mantap dan senyum ramah, perempuan berusia 59 tahun itu membawa bakul besar berisi botol-botol jamu racikan sendiri—sebuah tradisi yang ia rawat sejak muda.
Sulinem tak hanya menjual minuman herbal. Ia membawa serta warisan nenek moyang yang kini mulai tergerus zaman.
Sulinem, Penjaga Tradisi Jamu yang Tetap Tegar di Usia Senja
Setiap sore tanpa pernah libur, Sulinem berjalan menyusuri kampung dengan bakul berisi jamu yang ia gendong di punggung. Postur tubuhnya masih tegap, wajahnya segar, dan hanya sedikit flek yang mulai muncul—cermin dari usia yang terus bertambah namun tak mengurangi semangatnya.
Meski hampir memasuki usia 60 tahun, ia tetap kuat menempuh rute harian yang sudah ia jalani puluhan tahun. Ketika banyak orang seusianya memilih beristirahat di rumah, Sulinem justru menjadikan aktivitas ini sebagai bentuk pengabdian pada tradisi.
“Jamu ini bukan sekadar dagangan,” begitu kira-kira prinsip hidupnya. Bagi Sulinem, setiap ramuan yang ia racik adalah bagian dari warisan keluarga. Resep jamu yang ia bawa hari ini merupakan peninggalan sesepuh—formulasi yang ia jaga sepenuh hati tanpa mengubah takarannya sedikit pun.
Resep Turun-Temurun yang Tak Lekang oleh Zaman
Setiap botol jamu yang dibawa Sulinem diracik dari bahan alami: kunyit, jahe, temulawak, sambiloto, kapulaga, dan puluhan rempah lain yang sudah lama digunakan masyarakat Nusantara untuk menjaga kesehatan.
Meskipun bahan-bahan modern dan suplemen kesehatan semakin menjamur, Sulinem tetap percaya pada kesederhanaan racikan nenek moyangnya. Baginya, tradisi bukan sekadar kebiasaan, melainkan nilai hidup yang harus diteruskan.
Jamu buatannya disukai banyak pelanggan tetap—mulai dari ibu rumah tangga hingga pekerja yang ingin menjaga daya tahan tubuh. Mereka percaya bahwa racikan tradisional memiliki khasiat yang tak kalah dari minuman kesehatan modern.
Namun, tantangan terbesar Sulinem bukan hanya terus membuat jamu, melainkan mempertahankan minat generasi muda.
Tantangan Memperkenalkan Jamu ke Generasi Muda
Di era digital seperti sekarang, generasi muda cenderung memilih produk kesehatan dalam bentuk kapsul, vitamin instan, hingga minuman energi. Cita rasa jamu yang pahit sering membuat mereka enggan mencoba, apalagi menjadikannya sebagai kebiasaan.
Selain itu, gaya hidup serba cepat membuat proses meracik jamu dianggap tidak praktis. Banyak yang tak lagi mengenal perbedaan antara beras kencur, kunyit asam, atau sambiloto. Inilah yang membuat budaya minum jamu semakin jarang ditemui, terutama di wilayah perkotaan.
Para penjaja jamu keliling pun makin berkurang jumlahnya. Banyak yang memilih berhenti karena penjualannya menurun atau kalah bersaing dengan minuman kesehatan modern yang dipasarkan lewat media sosial.
Namun bagi Sulinem, menyerah bukan pilihan.
Upaya Menghidupkan Kembali Tradisi
Meski tak mudah, berbagai pihak mulai menggencarkan gerakan untuk menghidupkan kembali jamu sebagai bagian dari identitas budaya Indonesia.
Beberapa strategi yang kini diterapkan antara lain:
- Festival Jamu dan Edukasi Herbal
Banyak daerah mulai mengadakan festival jamu atau pelatihan meracik jamu, yang melibatkan masyarakat umum hingga pelajar. Tujuannya memperkenalkan kembali minuman tradisional ini sebagai bagian dari budaya sehat.
- Kemasan Modern dan Branding Kekinian
Sebagian pelaku UMKM melakukan inovasi dengan mengemas jamu dalam botol siap minum, memberikan label menarik, hingga memasarkan produk di media sosial. Pendekatan ini terbukti lebih mudah diterima generasi muda.
- Dukungan Pemerintah dan Komunitas Herbal
Program-program pemerintah yang mendorong pemanfaatan tanaman obat keluarga (TOGA) turut membantu meningkatkan kesadaran masyarakat tentang manfaat jamu.
- Kehadiran Jamu di Kafe dan Gerai Minuman
Beberapa kafe mulai mengadaptasi jamu sebagai minuman kekinian, misalnya beras kencur latte, kunyit asam sparkling, atau minuman herbal dingin yang disajikan dengan tampilan modern. Ini menjadi jembatan antara tradisi dan tren gaya hidup masa kini.
Jamu dan Identitas Budaya Indonesia
Lebih dari sekadar minuman sehat, jamu merupakan bagian dari jati diri bangsa. Dari Jawa hingga Sumatera, dari Bali hingga Sulawesi, setiap daerah memiliki resep dan filosofi masing-masing dalam meramu minuman herbal. Tradisi ini menunjukkan betapa kayanya pengetahuan lokal masyarakat Indonesia dalam memanfaatkan alam.
Jika jamu ditinggalkan, bukan hanya sebuah kebiasaan yang hilang, tetapi juga bagian dari sejarah dan kearifan lokal yang telah dibangun selama ratusan tahun.
Bagi Sulinem dan para penjaja jamu lain, menjaga tradisi ini bukan sekadar mencari nafkah, tetapi sebuah bentuk cinta pada budaya.
Menjaga Tradisi agar Tidak Punah
Melihat kegigihan para penjaga tradisi, muncul pertanyaan: apakah jamu masih memiliki tempat di masa depan?
Jawabannya bergantung pada dua hal—kepedulian generasi muda dan kemampuan adaptasi budaya itu sendiri. Jika jamu mampu dikemas dengan cara yang lebih modern namun tetap mempertahankan nilai tradisionalnya, bukan tidak mungkin minuman herbal ini kembali populer.
Namun selama masih ada sosok seperti Sulinem, yang setiap hari membawa warisan itu dari rumah ke rumah, harapan untuk melihat jamu kembali menjadi bagian dari gaya hidup masyarakat tidak pernah padam.
Budaya minum jamu mungkin mulai terkikis, tetapi perjuangan melestarikannya masih terus berjalan. Melalui tangan-tangan seperti Sulinem, tradisi ini tetap hidup dan diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Di tengah maraknya minuman modern, jamu mengingatkan kita bahwa kesehatan tidak melulu berasal dari produk instan. Kadang, kekuatan terbesar justru berasal dari tradisi yang sudah teruji oleh waktu. (balqis).
















