MediaKampung.com – Tekanan pasar global langsung terasa di lantai Bursa Efek Indonesia. Saham PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) dibuka melemah tajam pada sesi I perdagangan Senin (2/2/2026), mencerminkan sentimen negatif investor terhadap anjloknya harga emas dunia dalam dua hari terakhir.
Hingga sekitar pukul 09.10 WIB, saham emiten tambang pelat merah ini terperosok 10,93 persen ke level Rp3.750 per saham.
Aktivitas jual pada saham Antam terpantau sangat agresif sejak awal perdagangan. Dalam waktu singkat, lebih dari 74 juta saham ANTM berpindah tangan dengan frekuensi transaksi menembus 20 ribu kali dan nilai mencapai sekitar Rp286 miliar.
Koreksi tidak hanya menimpa Antam. Sejumlah saham emiten berbasis emas lainnya juga ikut terseret ke zona merah, termasuk BRMS, ARCI, HRTA, EMAS, hingga PSAB. Kondisi ini menunjukkan tekanan sektor yang bersifat menyeluruh, bukan sekadar aksi jual pada satu saham tertentu.
Berdasarkan laporan Stockbit Sekuritas, harga emas di pasar spot global tercatat turun sekitar 15 persen hanya dalam dua hari perdagangan terakhir. Dari posisi sekitar US$5.375 per ons pada pembukaan Jumat (30/1/2026), harga emas merosot ke kisaran US$4.586 per ons pada Senin pagi, sebelum bergerak terbatas di rentang US$4.600–4.700 per ons.
Penurunan tajam ini memicu aksi ambil untung besar-besaran setelah reli emas mencapai rekor, sekaligus menekan saham-saham yang memiliki keterkaitan langsung dengan pergerakan harga logam mulia tersebut.
Laporan Bloomberg menyebutkan, kejatuhan harga emas juga dipicu penguatan dolar AS menyusul kabar penunjukan Kevin Warsh sebagai Ketua Federal Reserve yang baru, menggantikan Jerome Powell pada Mei 2026 mendatang.
Warsh dikenal sebagai figur yang kritis terhadap besarnya neraca The Fed. Pasar pun mulai mengantisipasi arah kebijakan moneter yang lebih ketat, termasuk potensi percepatan pengetatan neraca (quantitative tightening/QT) dan berkurangnya intervensi bank sentral di pasar keuangan.
Ekspektasi tersebut membuat aset lindung nilai seperti emas kehilangan daya tarik dalam jangka pendek, sehingga tekanan jual sulit dihindari.
Anjloknya saham Antam pada awal pekan ini menjadi cerminan kuat bagaimana gejolak global cepat merambat ke pasar domestik. Koreksi tajam harga emas dunia, ditambah sentimen kebijakan moneter Amerika Serikat, membuat investor cenderung bersikap defensif terhadap saham-saham sektor emas.
Ke depan, pergerakan harga emas global dan sikap The Fed akan menjadi faktor kunci yang menentukan apakah tekanan ini hanya bersifat sementara atau berlanjut lebih dalam.


















Tinggalkan Balasan