Jakarta – Saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) kembali mencuri perhatian pelaku pasar pada perdagangan Kamis pagi, 15 Januari 2026. Hingga pukul 10.30 WIB, saham bank swasta terbesar di Indonesia tersebut tercatat menguat ke level 8.150, naik 150 poin atau 1,88 persen dibandingkan penutupan sebelumnya di 8.000.
Penguatan BBCA terjadi di tengah dinamika pasar yang masih dipengaruhi faktor global dan domestik. Meski demikian, minat beli investor terlihat tetap terjaga, mencerminkan kepercayaan terhadap fundamental kuat serta stabilitas kinerja keuangan perseroan.
Secara intraday, pergerakan saham BBCA menunjukkan tren positif dengan rentang harga pembukaan di 8.000, sempat menyentuh level tertinggi 8.175, dan terendah 7.975 sebelum ditutup sementara di 8.150. Kinerja ini membawa BBCA kembali mendekati area psikologis yang menjadi perhatian pelaku pasar.
Dari sisi valuasi, kapitalisasi pasar BBCA tercatat sekitar Rp 997,70 triliun, menempatkannya sebagai salah satu emiten dengan nilai pasar terbesar di Bursa Efek Indonesia. Tingginya kapitalisasi ini mencerminkan dominasi BBCA di sektor perbankan nasional serta tingginya kepercayaan investor institusi dan ritel.
Sejumlah indikator keuangan juga menjadi sorotan pasar. Saham BBCA memiliki rasio price to earnings (P/E) sekitar 17,58 dengan dividen yield 3,74 persen. Dalam periode 52 minggu terakhir, harga saham BBCA tercatat bergerak di kisaran 7.225 hingga 9.925.
Dari sisi fundamental, BBCA dikenal memiliki manajemen risiko yang disiplin, kualitas aset yang terjaga, serta likuiditas yang kuat. Faktor-faktor tersebut menjadi penopang utama kepercayaan investor, terutama di tengah kondisi pasar yang berfluktuasi.
Sentimen positif juga datang dari sektor perbankan secara umum. Stabilitas kebijakan moneter dan pertumbuhan kredit yang relatif terjaga masih menjadi faktor pendukung bagi saham-saham bank besar. Di sisi regulasi, Otoritas Jasa Keuangan bersama BEI terus mendorong penguatan tata kelola dan transparansi industri perbankan.
Bagi investor, penguatan saham BBCA mencerminkan daya tahan emiten perbankan berfundamental kuat di tengah dinamika pasar. Namun, pelaku pasar tetap mencermati perkembangan kondisi ekonomi, rilis kinerja keuangan perseroan, serta sentimen global yang dapat memengaruhi pergerakan saham ke depan.

















Tinggalkan Balasan