Sentimen investor menjelang perdagangan bursa berikutnya masih cenderung berhati-hati. Analis memproyeksikan Indeks Harga Saham Gabungan berpeluang menguat terbatas, namun pergerakan diperkirakan tetap fluktuatif di tengah ketidakpastian global.
Jakarta โ Pelaku pasar dinilai belum sepenuhnya berani mengambil risiko menjelang perdagangan bursa selanjutnya. Sikap wait and see masih mendominasi seiring meningkatnya volatilitas setelah penguatan indeks dalam beberapa sesi terakhir.
Analis pasar modal menilai, aksi ambil untung mulai terlihat pada saham-saham yang telah mencatat kenaikan signifikan. Kondisi ini membuat pergerakan IHSG cenderung selektif, dengan investor memilih mengamankan profit tanpa sepenuhnya keluar dari pasar.
Meski demikian, peluang penguatan jangka pendek dinilai masih terbuka selama IHSG mampu bertahan di atas area support psikologis. Pasar dinilai masih mencari keseimbangan antara optimisme dan kewaspadaan.
Dari sisi global, sentimen eksternal masih menjadi faktor utama yang memengaruhi pergerakan pasar domestik. Volatilitas di Wall Street serta pelemahan sejumlah harga komoditas menekan psikologi investor.
Selain itu, ketidakpastian arah kebijakan bank sentral global turut meningkatkan risiko pembalikan arah pasar. Situasi tersebut umum terjadi ketika pasar berada pada fase transisi dan menunggu kepastian kebijakan moneter serta data ekonomi lanjutan.
IHSG sebelumnya sempat menembus level psikologis 9.000, namun pergerakan tersebut diiringi lonjakan volatilitas. Pola pergerakan risk on dan risk off yang cepat mencerminkan tarik-menarik kuat antara optimisme lanjutan dan kekhawatiran koreksi.
Dalam kondisi tersebut, investor dinilai semakin mengandalkan level teknikal sebagai acuan. Support dan resistance menjadi perhatian utama, khususnya bagi pelaku pasar jangka pendek dalam menentukan titik masuk dan keluar.
Dari dalam negeri, fundamental ekonomi Indonesia dinilai relatif stabil. Inflasi masih terjaga dan stabilitas makro menjadi penopang utama pasar. Namun demikian, IHSG tetap sensitif terhadap rilis data ekonomi seperti inflasi, cadangan devisa, serta arah kebijakan fiskal dan moneter.
Kombinasi sentimen positif domestik dan tekanan teknikal membuat investor semakin selektif. Analis merekomendasikan pendekatan konservatif dengan fokus pada saham berfundamental kuat dan kinerja keuangan stabil.
Bagi pelaku pasar jangka pendek, strategi perdagangan dalam rentang harga dengan disiplin manajemen risiko dinilai lebih relevan dibandingkan mengejar harga di level tinggi, mengingat volatilitas pasar masih cukup tinggi.


















Tinggalkan Balasan