Saham PT Bumi Resources Tbk (BUMI) dan PT Darma Henwa Tbk (DEWA) mencuri perhatian pasar setelah melonjak hampir 100 persen dalam satu bulan terakhir. Lonjakan tersebut terjadi seiring tingginya volume transaksi dan munculnya peluang masuk indeks global MSCI.

Saham emiten terafiliasi Grup Bakrie dan Salim itu mencatatkan kenaikan signifikan sejak awal Desember hingga awal Januari. Pergerakan harga yang agresif membuat kedua saham menjadi salah satu yang paling aktif diperdagangkan di Bursa Efek Indonesia.

Dalam satu bulan terakhir, saham BUMI melonjak 94,96 persen hingga mencapai level Rp 464 per saham. Sementara itu, saham DEWA naik 97,82 persen dalam periode yang sama.

Dari sisi aktivitas perdagangan, kedua saham tersebut mencatatkan volume transaksi yang besar. Pada perdagangan Selasa (6/1/2026), sebanyak 8,65 miliar saham BUMI berpindah tangan dengan frekuensi 311.339 kali dan nilai transaksi mencapai Rp 3,02 triliun.

Adapun saham DEWA diperdagangkan sebanyak 2,54 miliar saham dengan frekuensi 175.054 kali. Nilai transaksi saham ini tercatat sekitar Rp 2 triliun dalam satu hari perdagangan.

Lonjakan harga dan tingginya likuiditas memunculkan spekulasi di kalangan pelaku pasar. Sejumlah analis menilai pergerakan tersebut berkaitan dengan peluang kedua saham masuk dalam indeks global MSCI.

Maybank Sekuritas dalam riset terbarunya menilai likuiditas saham BUMI yang meningkat membuka peluang untuk dipertimbangkan masuk ke MSCI Global Standard. Selain itu, saham DEWA juga dinilai berpotensi masuk ke indeks MSCI di luar kategori Global Standard.

Sebelumnya, Indo Premier Sekuritas memperkirakan BUMI memiliki peluang paling besar untuk masuk ke indeks MSCI Standard Cap pada peninjauan Februari 2026. Berdasarkan estimasi tersebut, ambang batas harga minimum saham BUMI berada di kisaran Rp 315 per saham.

Dalam risetnya, Indo Premier mencatat bahwa BUMI saat ini telah menjadi anggota MSCI Investible Market Index dan termasuk dalam indeks MSCI Small Cap. Kenaikan harga saham yang hampir dua kali lipat dalam sebulan dinilai masih sesuai dengan ketentuan kenaikan harga ekstrem MSCI.

Namun, Indo Premier juga mencatat potensi risiko apabila harga saham BUMI menembus level di atas Rp 700 per saham hingga akhir Januari 2026, yang merupakan periode peninjauan indeks MSCI.