Media Kampung – 21 Maret 2026 | Michael Bambang Hartono, salah satu pendiri Grup Djarum, meninggal pada 19 Maret 2026 pukul 13.15 waktu Singapura pada usia 86 tahun.

Kematian tersebut dikonfirmasi oleh Budi Darmawan, Senior Manager Corporate Communication PT Djarum, yang menyampaikan rasa duka yang mendalam.

Penyebab resmi kematian belum diumumkan, meskipun Hartono sebelumnya diketahui menderita PPOK dan pernah mengalami serangan jantung.

Ia lahir pada 2 Oktober 1939 di Kudus, Jawa Tengah, sebagai putra sulung Oei Wie Gwan, pengusaha Tionghoa‑Indonesia yang membeli pabrik rokok bangkrut pada 1951 dan menamainya Djarum.

Awalnya Djarum memproduksi kretek secara tradisional dengan campuran tembakau dan cengkeh yang menghasilkan suara khas saat dibakar.

Pada 1963, pabrik Djarum terbakar hebat dan Oei Wie Gwan meninggal, meninggalkan Michael yang berusia 24 tahun bersama adiknya Robert Budi Hartono untuk memulihkan usaha dari nol.

Kedua bersaudara memperkenalkan produksi mesin, meluncurkan kretek berfilter pertama pada 1976, dan mulai mengekspor ke Amerika Serikat serta negara lain sejak 1972.

Inovasi tersebut menjadikan Djarum salah satu produsen kretek terbesar di Indonesia dengan pangsa pasar signifikan.

Setelah krisis ekonomi Asia 1997‑1998, keluarga Hartono mengakuisisi saham pengendali Bank Central Asia (BCA) dari keluarga Salim, menjadikannya bank swasta terbesar di Indonesia.

Portofolio keluarga kemudian meluas ke perkebunan sawit, properti strategis di Jakarta, elektronik Polytron, telekomunikasi, e‑commerce, dan klub sepak bola Italia Como 1907.

Di luar bisnis, Hartono berperan besar dalam dunia olahraga melalui Djarum Foundation, khususnya dalam pembinaan bulu tangkis melalui PB Djarum.

PB Djarum menyediakan pelatihan gratis, beasiswa, dan fasilitas standar internasional bagi talenta muda, menghasilkan atlet berstandar Olimpiade.

Atlet yang dibina antara lain Alan Budikusuma (emas Barcelona 1992) dan Liliyana Natsir (emas Beijing 2008 dan Rio 2016), serta ganda putra Kevin Sanjaya Sukamuljo‑Marcus Fernaldi Gideon.

Selain badminton, Hartono juga mendukung bridge; pada usia 78 tahun ia berkompetisi di Asian Games 2018 di Jakarta dan meraih perunggu super‑mixed, menjadi atlet tertua Indonesia yang meraih medali di ajang tersebut.

Ia menyumbangkan hadiah Rp 150 juta dari medali tersebut kembali ke program nasional bridge dan menerima Satyalancana Dharma Olahraga pada 2020.

Rekan kerja menggambarkan Hartono sebagai visioner yang menggabungkan disiplin manajerial dengan investasi sosial jangka panjang, terlibat langsung dalam strategi korporat dan pembinaan atlet.

Djarum Foundation tetap dijalankan oleh ahli warisnya, menjaga infrastruktur pelatihan dan skema beasiswa yang dirintis Hartono.

Hartono ditinggalkan oleh istri, empat anak, dan saudaranya Robert, yang akan melanjutkan kepemimpinan konglomerat serta inisiatif filantropi keluarga.

Kehilangan ini menandai akhir era di mana sebuah workshop kretek kecil berkembang menjadi kerajaan multinasional sekaligus mencetak generasi atlet dunia.

Indonesia berduka atas sosok yang meninggalkan jejak mendalam di sektor ekonomi dan prestasi olahraga nasional.

Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.