Media Kampung – 20 Maret 2026 | Michael Bambang Hartono meninggal pada 19 Maret 2026 di Singapura, usia 86 tahun, meninggalkan warisan bisnis yang meliputi rokok, perbankan, properti, teknologi, dan kuliner.

Hartono bersama saudaranya Robert Budi Hartono mengelola Grup Djarum, yang bermula dari pabrik rokok kretek Oei Wie Gwan pada 1951 dan kini menjadi produsen rokok kretek terbesar di Indonesia.

Djarum memproduksi merek‑merek terkenal seperti Djarum Super, Djarum Black, dan L.A., serta mengekspor produk ke pasar internasional sejak awal 1970‑an.

Keberhasilan Djarum di sektor tembakau memberikan modal bagi keluarga Hartono untuk mengakuisisi saham mayoritas di Bank Central Asia (BCA) melalui PT Dwimuria Investama Andalan, dengan kepemilikan tidak langsung sekitar 55%.

Pada akhir 2025, kepemilikan saham BCA oleh Michael Hartono tercatat sekitar 27,02 juta lembar, setara 0,022% secara langsung, menegaskan posisi mereka sebagai pemegang saham terbesar di bank terbesar Indonesia.

Diversifikasi bisnis berlanjut ke bidang elektronik melalui PT Hartono Istana Teknologi (Polytron), yang memproduksi televisi, kulkas, AC, dan ponsel dengan merek lokal.

Di ranah e‑commerce dan media, grup mengendalikan PT Global Digital Prima Venture, yang menaungi platform Blibli.com, Kaskus, Mindtalk, Crazymarket, dan DailySocial.net.

Sektor properti juga menjadi andalan; perusahaan mengelola Mal Grand Indonesia, Hotel Kempinski, serta proyek menengah ke bawah seperti World Trade Center Mangga Dua, Mall Daan Mogot, dan kompleks perumahan di Karawang.

Hartono memperluas ke bisnis ritel makanan melalui PT Supra Boga Lestari (RANC), operator jaringan supermarket Ranch Market, dan PT Sumber Kopi Prima yang memproduksi merek kopi Caffino dan Kopi Gadjah.

Di sektor agrikultur, PT Hartono Plantation Indonesia mengelola perkebunan kelapa sawit di Kalimantan Barat serta menanam cengkeh, tembakau, tebu, dan minyak atsiri.

Investasi di infrastruktur telekomunikasi diwujudkan melalui PT Sarana Menara Nusantara (TOWR), operator menara seluler terbesar yang menyewakan ribuan menara kepada operator jaringan seluler.

Forbes mencatat kekayaan bersih Michael Hartono mencapai US$ 17,5 miliar (sekitar Rp 297 triliun) pada 2025, menempatkannya di peringkat 158 orang terkaya dunia dan kedua terkaya di Indonesia.

Keluarga Hartono juga dikenal aktif dalam filantropi, mendukung pendidikan, kesehatan, dan budaya melalui Yayasan Djarum yang menyelenggarakan beasiswa dan program seni.

Pernyataan resmi dari Corporate Communication Senior Manager Group Djarum, Budi Darmawan, menyampaikan duka mendalam atas kepergian Hartono dan menegaskan komitmen perusahaan untuk melanjutkan visi pendirinya.

Warisan Michael Bambang Hartono tetap terlihat dalam jaringan bisnis yang tersebar di sektor keuangan, manufaktur, properti, dan teknologi, serta dalam kontribusi sosial yang terus berkembang.

Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.