Media Kampung – 25 Maret 2026 | Washington mengkritik keras penembakan dua rudal buatan Rusia yang melintasi ruang udara internasional pada pekan ini, menilai aksi tersebut sebagai pelanggaran serius terhadap keamanan global.

Rudal tersebut, yang diduga jenis S-300, diluncurkan dari wilayah Kaliningrad dan berhasil menyeberangi batas wilayah Estonia sebelum dipantau oleh sistem radar NATO.

Pada insiden lain, sebuah rudal balistik Rusia menabrak tiga sistem pertahanan Patriot milik Amerika yang tengah beroperasi di wilayah Timur Tengah, menyebabkan kerusakan signifikan pada peralatan militer AS.

Pejabat pertahanan AS menyatakan bahwa kegagalan intersepsi menimbulkan risiko eskalasi yang tidak dapat diterima dan menuntut peninjauan ulang protokol pertahanan udara.

Sementara itu, serangan rudal balistik Iran terhadap dua kota di selatan Israel menambah ketegangan di wilayah Timur Tengah, menandai satu lagi episode penggunaan misil dalam konflik yang melibatkan beberapa negara besar.

Iran meluncurkan dua rudal ke Dimona dan Arad, menewaskan hampir seratus orang dan melukai lebih dari seratus lainnya, sementara bangunan penduduk mengalami kerusakan parah.

Sistem pertahanan udara Israel gagal mencegat kedua rudal tersebut, memicu penyelidikan militer atas kegagalan intersepsi yang dianggap mengancam keamanan nasional.

Pihak Tehran mengklaim serangan itu merupakan balasan langsung atas serangan sebelumnya ke fasilitas nuklir Natanz, menegaskan bahwa mereka tidak akan mundur dari tindakan militer.

Direktur Jenderal IAEA, Rafael Grossi, menegaskan bahwa fasilitas nuklir di Dimona tidak mengalami kerusakan dan menyerukan semua pihak untuk menahan diri agar tidak menimbulkan kecelakaan nuklir.

Pejabat senior Pentagon menilai bahwa peningkatan aktivitas rudal, baik dari Rusia maupun Iran, menggarisbawahi kebutuhan Amerika untuk memperkuat aliansi pertahanan di Eropa dan Timur Tengah.

Negara-negara sekutu NATO mengungkapkan keprihatinan bersama, menyoroti pentingnya koordinasi intelijen yang lebih ketat untuk mencegah insiden serupa di masa depan.

Dengan tiga front ketegangan sekaligus, dunia menanti langkah diplomatik yang dapat menurunkan risiko konflik berskala lebih luas.

Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.