Media Kampung – 25 Maret 2026 | Presiden Rusia Vladimir Putin mengirimkan ucapan selamat resmi kepada Kim Jong Un setelah pemilihan kembali Kim sebagai Ketua Urusan Negara Korea Utara pada 22 Maret 2026.

Pemilihan tersebut menghasilkan dukungan 99,99 persen dari Majelis Rakyat Tertinggi, menandai awal masa jabatan ke‑15 Kim sejak pertama kali berkuasa pada 2011.

Dalam pernyataan yang disampaikan lewat kanal Telegram Kremlin, Putin menegaskan rasa hormatnya terhadap kontribusi Kim dalam memperkuat hubungan bilateral antara Moskow dan Pyongyang.

Putin menambahkan Rusia akan melanjutkan kerja sama strategis komprehensif, termasuk bidang militer, energi, dan teknologi, demi kepentingan bersama kedua negara.

Kim Jong Un, yang kini mempersiapkan putrinya Kim Ju‑Ae, berusia sekitar 13 tahun, sebagai calon penerus, menanggapi ucapan selamat tersebut melalui kantor berita KCNA.

Dalam balasannya, Kim menegaskan komitmen Korea Utara untuk tetap bersatu dengan Rusia, menyebut aliansi keduanya sebagai “dukungan saling menguatkan yang tak tergoyahkan.”

Kedua pemimpin sebelumnya menandatangani perjanjian kemitraan strategis komprehensif pada 2024, yang mencakup bantuan militer bila salah satu pihak diserang oleh pihak ketiga.

Implementasi perjanjian terlihat sejak Agustus 2025, ketika ribuan insinyur militer Korut dikerahkan ke wilayah Kursk untuk membantu pembersihan ranjau dan dukungan logistik bagi pasukan Rusia.

Badan intelijen Korea Selatan memperkirakan sekitar dua ribu tentara Korut tewas dalam operasi tersebut, sementara ribuan lainnya mengalami luka.

Hubungan militer yang erat juga tercermin dalam pengiriman senjata, termasuk rudal balistik dan sistem pertahanan udara, yang pernah dipertukarkan antara Pyongyang dan Moskow.

Pada kunjungan Putin ke Pyongyang pada Juni 2024, kedua pemimpin menyepakati mekanisme bantuan militer “tanpa penundaan” jika terjadi serangan terhadap salah satu negara.

Keputusan tersebut memperkuat posisi Korea Utara sebagai sekutu strategis Rusia dalam konflik Ukraina, di mana Pyongyang telah mengirimkan personel dan peralatan militer ke front Rusia.

Analisis para pengamat menilai bantuan Korut kepada Rusia merupakan balasan atas bantuan pangan, teknologi nuklir, dan pelatihan militer yang diberikan Moskow kepada Pyongyang.

Sementara itu, dalam pidato pertamanya setelah terpilih kembali, Kim Jong Un mengkritik Amerika Serikat atas apa yang ia sebut tindakan terorisme dan agresi di berbagai wilayah.

Kritik tersebut menyoroti dukungan Rusia terhadap Korea Utara dalam menghadapi tekanan Barat, sekaligus menegaskan kebijakan nuklir Pyongyang sebagai pilar utama pertahanan negara.

Putusan pemilihan kembali Kim juga menimbulkan spekulasi mengenai stabilitas politik dalam rezim dinasti, mengingat penunjukan Kim Ju‑Ae sebagai calon penerus semakin menguat.

Pemerhati internasional mencatat bahwa dinamika internal Korea Utara tetap didominasi oleh kontrol partai kerja dan jaringan keluarga Kim, sehingga perubahan kebijakan luar negeri masih dipimpin oleh tokoh utama.

Hubungan ekonomi antara Rusia dan Korea Utara masih terbatas karena sanksi internasional, namun kedua negara terus mengembangkan proyek energi dan pertanian bersama.

Pada akhir pernyataan Putin, ia menegaskan bahwa kemitraan strategis antara Moskow dan Pyongyang akan terus berkembang, mencerminkan kepentingan geopolitik di kawasan Asia‑Eropa.

Secara keseluruhan, ucapan selamat Putin menandai kesinambungan hubungan bilateral yang telah terjalin lama, sementara Korea Utara menegaskan posisinya sebagai sekutu setia Rusia di panggung internasional.

Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.