Media Kampung – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) jatuh 8,3 persen pada pekan 18-22 Mei 2026, mencatat penurunan tajam yang menimbulkan kekhawatiran di kalangan investor.

Data Bursa Efek Indonesia (BEI) menunjukkan IHSG berakhir pada 6.162,04 poin, jauh di bawah level 6.723,32 poin pekan sebelumnya.

Penurunan ini juga memotong kapitalisasi pasar BEI sebesar 10,07 persen, menurunkan nilai total menjadi Rp 10.635 triliun dari Rp 11.825 triliun.

Herditya Wicaksana dari PT MNC Sekuritas menilai tekanan pasar dipicu oleh kombinasi faktor internal dan eksternal yang kuat.

Faktor pertama adalah outflow dana akibat beberapa emiten Indonesia dikeluarkan dari konstituen MSCI, mengurangi aliran modal asing.

Faktor kedua berasal dari notulen FOMC yang menegaskan sikap hawkish Federal Reserve, dipicu gejolak di Timur Tengah dan inflasi AS yang tetap di atas target 2 persen.

Faktor ketiga melibatkan kenaikan suku bunga acuan Bank Indonesia sebesar 50 basis poin, yang bertujuan menstabilkan nilai tukar rupiah namun menambah beban biaya pinjaman.

Regulasi pemerintah terhadap sektor komoditas menjadi faktor keempat, menekan harga saham perusahaan pertambangan dan energi.

FTSE juga mengeluarkan beberapa emiten Indonesia, menambah tekanan keluar dana asing pada minggu tersebut.

Seluruh sektor mengalami penurunan, dengan energi terdepresi 13,68 persen, bahan dasar turun 16,31 persen, dan industri melemah 11,70 persen.

Sektor consumer non‑siklikal juga tertekan 5,37 persen, sementara consumer siklikal mencatat penurunan 10,20 persen.

Sektor kesehatan terperosok 2,41 persen, dan keuangan turun 4,11 persen, mencerminkan kekhawatiran profitabilitas di tengah volatilitas.

Properti dan real estate kehilangan 8,42 persen, teknologi turun 5,07 persen, dan infrastruktur melemah 10,80 persen.

Rata‑rata nilai transaksi harian naik 15,68 persen menjadi Rp 21,77 triliun, sementara volume transaksi harian meningkat 2,53 persen menjadi 36,67 miliar saham.

Herditya memperkirakan IHSG tetap rawan koreksi lebih lanjut karena aliran keluar dana MSCI, FTSE, dan volatilitas pasar global yang berkelanjutan.

Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.